This is featured post 1 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

This is featured post 2 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

This is featured post 3 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

This is featured post 4 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

This is featured post 5 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.


Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran. Tampilkan semua postingan

Running Lamp

0 komentar






RUNNING LAMP SEBAGAI
MEDIA / ALAT PEMBELAJARAN
BERBASIS KOMPUTER, MENGGUNAKAN BAHASA PEMROGRAMAN ASSEMBLER


Disusun

DALAM RANGKA MENGIKUTI LOMBA KREATIVITAS INNOVATIF IMPLEMENTASI MANAJEMEN SEKOLAH EFEKTIF DAN MODEL PEMBELAJARAN EFEKTIF PADA SEKOLAH UNGGULAN



Oleh :





Drs. BARTO, S.ST
NIP. 132057872









SMK NEGERI 1 MAKALE
KABUPATEN TANA TORAJA
PROPINSI SULAWESI SELATAN
2007

LEMBAR PENGESAHAN


Judul Karya Innovatif : RUNNING LAMP SEBAGAI MEDIA / ALAT PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPUTER, MENGGUNAKAN BAHASA PEMROGRAMAN ASSEMBLER

Nama penulis : Drs. Barto, S.ST

N I P : 132057872

Unit kerja : SMK Negeri I Makale

Makale, 26 Nopember 2007

Menyetujui,
Kepala SMKN I Makale




Drs. Rede Roni Bare, M.Pd
NIP. 131840039























LEMBAR PENETAPAN

Judul Karya Innovatif : RUNNING LAMP SEBAGAI MEDIA / ALAT PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPUTER, MENGGUNAKAN BAHASA PEMROGRAMAN ASSEMBLER

Nama penulis : Drs. Barto, S.ST

N I P : 132057872

Unit kerja : SMK Negeri I Makale

Setelah mempresentasekan hasil karya ini pada
Hari / Tanggal : Selasa, 4 Desember 2007
Tempat : Hotel Grand Palace, Makassar
Maka Dewan Juri Menetapkan Sebagai

JUARA KE – 2

Dalam Rangka Lomba Kreatifitas Innovatif Implementasi Manajemen Sekolah Efektif Dan Model Pembelajaran Efektif tingkat SMK Pada Sekolah Unggulan Se - Sulawesi Selatan

Ditetapkan di Makassar, 4 Desember 2007
Dewan juri :


1. Drs. Bernard, MS ( …………………………..) 
ketua

2. Dr. Salam, M.Pd (…………………………...)
Anggota

3 Drs. Abdullah Pandang, M.Pd 
(……………..………….) 
Anggota

4. Drs. Fachry Kahar, M.Si (…………………………..)
Anggota

5. Drs. Ansar, M.Pd (…………………………...)
.. Anggota


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, Karena atas bimbinganNya sehingga kami dapat meyelesaikan pembelajaran berbasis Komputer menggunakan bahasa assembler sebagai bahasa pemrograman.

Media/ alat pemelajaran ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kompetensi pemrograman, dimana kompetensi ini sebagai muatan lokal yang diajarkan di kelas 2 pada jenis kurikulukm KTSP (kurikulum tingkat satuan pendidikan ) pada SMKN I Makale.
.
Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih kepada Dinas Pendidikan Propinsi Sulawesi Selatan, dan Universitas Negeri Makassar yang telah memberii kesempatan kepada penulis untuk berkarya. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Kepala SMKN I Makale yang telah memberi motivasi untuk mengikuti lomba innovatif ini.
.
Kami menyadari, bahwa pembuatan media ini masih jauh dari sempurna, sehingga lewat kesempatan ini, penulis mengharapkan masukan /saran yang sifatnya membangun untuk kesempurnaan model pembelajaran ini, agar tujuan pendidikan dapat tercapai khususnya disekolah kami SMKN I Makale, dan di Negara Republik Indonesia ini yang sama kita cintai.


Makale, 26 Nopember2007
Penulis





Drs. Barto, S.ST
NIP. 132057872





DAFTAR ISI


Halaman Sampul ………………………………………… 1
Lembar pengesahan ………………………………………… 2
Kata Pengantar ………………………………………… 3
Daftar isi ………………………………………… 4

BAB I PENDAHULUAN ………………………………………… 5
I.1 Latar Belakang Masalah ………………………………………… 5
I.2 Tujuan ………………………………………… 7
I.3 Manfaat ………………………………………… 7
a. Bagi Guru ………………………………………… 7
b. Bagi Siswa ………………………………………… 7
I.4 Batasan Masalah ………………………………………… 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .……………………………………. 8
II.1 Kajian Teoritis ………………………………………… 8
II.2 Bahasa Pemrograman ………………………………………… 10

BAB III ALAT EVALUASI ………………………………………… 13

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ……………………………… 16
A, Kesimpulan …………………………………………. 16
B. Saran …………………………………………. 16

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………. 17
LAMPIRAN …………………………………………. 18





BAB I
PENDAHULUAN

I. 1 Latar Belakang Masalah
Belajar pada hakikatnya adalah aktivitas untuk melakukan perubahan tingkah laku pada diri individu yang belajar. Perubahan tingkah laku terjadi karena adanya usaha individu yang bersangkutan baik yang dapat mengembangkan kreatifitas, sikap dan perilaku pada ranah afektif, perubahan pola pikir dan pola tindak pada ranah kognitif, maupun perubahan fisik dan motorik pada ranah psikomotorik.
Pembelajaran merupakan bentuk penyelenggaraan pendidikan yang memadukan secara sistematis dan berkesinambungan suatu kegiatan. Kegiatan pembelajaran dapat dilakukan di lingkungan sekolah dan di luar lingkungan sekolah dalam wujud penyediaan beragam pengalaman belajar untuk semua peserta didik, salah satunya adalah media pembelajaran.
Kegiatan pembelajaran sebagai suatu proses harus berdasarkan prinsip-prinsip pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dicapai.
Setiap kegiatan pembelajaran yang dirancang selain mengikuti prinsip-prinsip pembelajaran, juga dilihat keterkaitannya dengan keluasan bahan/materi, pengalaman belajar, tempat dan waktu belajar, serta alat/sumber belajar.
· Dalam kegiatan pembelajaran, guru perlu memberikan dorongan kepada peserta didik untuk mengungkapkan kemampuannya dalam membangun gagasan. Guru berperan sebagai fasilitator dan bertangung jawab untuk menciptakan situasi yang dapat menumbuhkan prakarsa, motivasi, dan tanggung jawab peserta didik untuk belajar. Disamping itu guru dalam mengelola kegiatan pembejalaran hendaknya mampu mengembangkan pola interaksi antara berbagai pihak yang terlibat di dalam pembelajaran dan harus pandai memotivasi peserta didik untuk terbuka, kreatif, responsif, interaktif dalam kegiatan pembelajaran. Kualitas pembelajaran dapat diukur dan ditentukan oleh sejauh mana kegiatan pembelajaran tertentu dapat menjadi alat perubah tingkah laku peserta didik ke arah yang sesuai dengan tujuan/kompetensi yang telah ditetapkan. Permasalahan yang dihadapi selama ini dalam penulis mengajarkan kompetensi ini, antara lain:
· Untuk kompetensi bahasa pemograman, selama ini dilakukan dengan model kompensional, guru sebagai objek, sementara siswa sebagai subjek ( Central learning), yang seharusnya siswa harus sebagai objek, dan guru sebagai subjek, sehingga dengan demikian siswa diberi peluang untuk lebih menggali, mendalami sekaligus dapat mengaplikasikannya, sedangkan guru hanya sebagai fasilitator
· Perangkat media pembelajaran yang ada disekolah, kurang memadai, Khususnya untuk proses pembelajaran kompetensi pemrograman, sehingga dirasa perlu untuk membuat media sebagai aplikasi dari kompetensi bahasa pemrograman ( Assembler )
· Tidak adanya referensi – referensi mengenai media pembelajaran bahasa pemrograman, sehingga dirasa perlu untuk membuat media pemebelajaran ini, sebagai salah satu innovasi penulis didalam mengimplementasikan materi pemrograman dalam kegiatan belajar mengajar


I. 2 Tujuan

1. Membuat alat pembelajaran,sekaligus sebagai media Pemelajaran efektif berbasis komputer.

1.3 Manfaat

1. Bagi Guru :

a. Bagi kami selaku guru, alat ini lebih efisien dan efektif untuk proses kegiatan belajar mengajar


b. Pembiatan peralatan ini tidak mengeluarkan biaya yang besar, sehingga dapat digandakan untuk guru-guru yang ingin menggunakan media ini

2. Bagi Siswa :


a. Dengan mempergunakan alat/media ini, diharapkan dapat menarik perhatian siswa, karena media ini dapat langsung diaplikasikan

b. Dengan media ini, siswa dapat lebih cepat mengerti, memahami dan mempraktekkannya, sehingga kompetensi dasar yang diajarkan mudah tercapai


1.4. Batasan Masalah

Agar masalah tidak melebar, maka penulis membatasi pada hal-hal seagai berikut :

Alat yang penulis buat ini hanya Dibatasi pada materi kompetensi Aplikasi bahasa pemrograman Assembler
Hardware ini hanya dibatasi untuk penggunakan 8 LED
Accelerasi running lamp ini dapat diatur sesuai keinginan
Arah nyala lampu ini dapat diatur sesuai keinginan, misalnya:
- Arah nyalanya dari kiri – ke kanan
- Dari kanan ke kiri
- Dari tengah ke arah kiri dan kanan
e. Alat/Media ini Menggunakan Sumber tegangan DC 5 Volt dan down loadernya 12 Volt DC


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA



II. 1 Kajian Teoritis

Alat/media ini akan memberikan pengenalan instruksi-instruksi dasar pada MCS-51, format umum dan penjelasan fungsi-fungsinya. Selanjutnya, berdasarkan instruksi-instruksi tersebut, praktikan dilatih membuat suatu program sederhana. Terakhir, akan dijelaskan prosedur memasukkan program itu ke dalam mikrokontroler.
Kita akan memulai pemrograman assembly dengan mengenal instruksi-instruksi yang ada dalam MCS-51.

Secara umum instruksi-instruksi dalam keluarga MCS-51 dapat dikategorikan dalam empat bagian :

1. instruksi perpindahan data,
2. instruksi aritmatika,
3. instruksi logika
4. instruksi percabangan

1. Instruksi Perpindahan Data
Instruksi perpindahan data merupakan instruksi yang paling sering dipergunakan dalam suatu pemrograman assembly. Berikut merupakan format umum instruksi ini :Ins Parameter1, Parameter2
Ins adalah instruksi, Parameter1 adalah tujuan dari hasil operasi dan kadang kala merupakan parameter pertama dalam operasi yang dilakukan, sedangkan Parameter2 umumnya berupa nilai yang akan dioperasikan oleh instruksi.
Contoh : MOV A, R0, berarti isi register 0 ( R0 ) dimasukkan ke Akumulator (A)

Dengan mengetahui arah aliran data dalam instruksi, akan memudahkan kita untuk memahami instruksi lainnya yang akan dibahas.
Beberapa format instruksi perpindahan data yang lain dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1 Instruksi Perpindahan Data
Instruksi
Keterangan
Contoh
MOV A, Rn
Memindahkan isi register Rn ke A (akumulator)
MOV A, R0
MOV A, direct
Memindahkan isi direct byte ke akumulator
MOV A, 30h
MOV A, #data
Mengisi akumulator dengan nilai data
MOV A, #20h
MOV A, @Rn
Mengisi akumulator dengan isi dari alamat yang ditunjuk oleh Rn
MOV A, @R0

2 Instruksi Aritmatika
Berikut merupakan beberapa contoh instruksi aritmatika (Tabel 2).
Tabel 2 Instruksi Aritmatika
Instruksi
Keterangan
Contoh
ADD A, Rn
Menambah isi register Rn dengan isi akumulator lalu disimpan di akumulator
ADD A, R1
ADD A, direct
Menambah isi direct dengan akumulator, hasilnya disimpan di akumulator
ADD A, 30H
ADD A, #data
Menambahkan immediate data ke akumulator
ADD A, #20h
ADD A, @Rn
Menambahkan isi dari alamat yang ditunjuk Rn dengan akumulator
ADD A, @R1
ADDC A, #data
Menambahkan immediate data ke akumulator dengan carry
ADDC A, #20h
SUBB A, Rn
Kurangkan isi register Rn dari akumulator
SUBB A, R1
INC A
Tambah isi akumulator dengan 1
INC A
DEC A
Kurangkan isi akumulator dengan 1
DEC A
MUL AB
Kalikan isi A dengan isi B, low-byte disimpan pada akumulator, dan high byte pada B
MUL AB
DIV AB
Bagi isi A dengan isi B. Akumulator menerima hasil integer pembagian dan B menerima integer sisanya.
DIV AB
3. Instruksi Logika
Berikut merupakan beberapa contoh instruksi logika.

Tabel 3 Instruksi Logika
Instruksi
Keterangan
Contoh
ANL A, Rn
AND isi Rn dengan isi akumulator
AND A, R0
ANL A, #data
AND immediate data dengan isi akumulator
AND A, #20H
ORL A, Rn
OR isi Rn dengan isi akumulator
OR A, R0
XRL A, #data
XOR immediate data dengan isi akumulator
XOR A, #data
CPL A
Komplemen isi akumulator
CPL A


4 Instruksi Percabangan
Percabangan pada 8051 ada beberapa macam, antara lain :
v Conditional Jump ;
v Direct Jump ;
v Direct Call (pemanggilan subroutine) ;
v Return from subroutine (kembali dari subroutine).

II.2 Bahasa Pemrograman

Rencana kegiatan pembelajaran bahasa pemrograman dengan mengunakan bahasa assembler, atau sering disebut bahasa yang dekat dengan mesin, adalah salah satu bahasa pemrograman tingkat rendah ( low level language ) yang aplikasinya dapat langsung dilihat pada hardware

Mikroprocessor yang kami gunakan untuk mendrive led adalah AT 89 S 52 dengan memory yang cukup besar yaitu 8Mb dengan 4 buah port, dimana masing-masing port dapat melayani 8 buah LED.
Penulis hanya menggunakan 8 buah LED sebagai media pembelajaran bahasa pemrograman, Dengan program yang sangat sederhana, kita dapat mengatur nyala
8 buah led tersebut dapat menyala secara bergantian, atau menyala dari kiri ke kanan, atau dari kanan ke kiri, serta dapat pula menyala dari arah tengah. Dibawah ini ditunjukkan sebuah bahasa pemrograman assembler untuk menyalakan lampu dari arah kanan ke kiri secara terus menerus, dengan timing 5 dtk.

ORG 0H
Barto :
MOV P1,#00000001B
CALL DELAY
MOV P1,#00000011B
CALL DELAY
MOV P1,#00000111B
CALL DELAY
MOV P1,#00001111B
CALL DELAY
MOV P1,#00011111B
CALL DELAY
MOV P1,#00111111B
CALL DELAY
MOV P1,#01111111B
CALL DELAY
MOV P1,#11111111B
CALL DELAY
SJMP Barto

DELAY: MOV R0,#5
DELAY1: MOV R1,#0FFH
DELAY2: MOV R2,#0FFH

DJNZ R2,$
DJNZ R1,DELAY2
DJNZ R0,DELAY1
RET

END





Menyalakan lampu dari arah tengah ke kiri dan kanan, selanjutnya dari arah kanan – kiri ike tengah. Listing programnya sbb:

ORG 0H
Barto :
MOV P1,# 00011000B
CALL DELAY
MOV P1,#00111100B
CALL DELAY
MOV P1,#01111110B
CALL DELAY
MOV P1,#11111111B
CALL DELAY
MOV P1,#10000001B
CALL DELAY
MOV P1,#11000011B
CALL DELAY
MOV P1,#11100111B
CALL DELAY
MOV P1,#11111111B
CALL DELAY
SJMP Barto

DELAY: MOV R0,#5
DELAY1: MOV R1,#0FFH
DELAY2: MOV R2,#0FFH

DJNZ R2,$
DJNZ R1,DELAY2
DJNZ R0,DELAY1
RET

END






















BAB III
ALAT EVALUASI


1. Berdasarkan contoh yang telah dijelaskan di atas, buatlah suatu program yang melakukan proses berikut:
(a) LED menyala dari arah kanan ke kiri dengan delay waktu 3 detik, kemudian
(b) nyalakan 2 buah led yang menyala kearah kiri-kanan selang waktu 4 dtk
Simpanlah file tersebut dengan nama mod1_01.asm, kemudian compile-lah file tersebut!
2. Tulislah suatu program yang dapat menyalakan 4 buah lampu secara bergantian dan Simpanlah file tersebut dengan nama mod1_02.asm, kemudian compile-lah file tersebut!
Kunci Jawaban
a Program LED menyala dari arah kanan ke kiri selang waktu 3 dtk.

ORG 0H
Barto :
MOV P1,#00000001B
CALL DELAY
MOV P1,#00000011B
CALL DELAY
MOV P1,#00000111B
CALL DELAY
MOV P1,#00001111B
CALL DELAY
MOV P1,#00011111B
CALL DELAY
MOV P1,#00111111B
CALL DELAY
MOV P1,#01111111B
CALL DELAY
MOV P1,#11111111B
CALL DELAY
SJMP Barto

DELAY: MOV R0,#3
DELAY1: MOV R1,#0FFH
DELAY2: MOV R2,#0FFH

DJNZ R2,$
DJNZ R1,DELAY2
DJNZ R0,DELAY1
RET

END

b Program 2 buah LED menyala secara bergantian dari arah kanan ke kiri ndan sebaliknya

ORG 0H
Barto :
MOV P1,#00110011B
CALL DELAY
MOV P1,#11001100B
CALL DELAY
MOV P1,# 00110011B
CALL DELAY
MOV P1,#11001100B
CALL DELAY
MOV P1,#00110011B
CALL DELAY
MOV P1,#11001100B
CALL DELAY
MOV P1,#00110011B
CALL DELAY
MOV P1,#11001100B
CALL DELAY
SJMP Barto

DELAY: MOV R0,#4
DELAY1: MOV R1,#0FFH
DELAY2: MOV R2,#0FFH

DJNZ R2,$
DJNZ R1,DELAY2
DJNZ R0,DELAY1
RET

END



2. Bahasa pemrograman 4 buah LED menyala secara bergantian selang waktu 4 dtk

ORG 0H
Barto :
MOV P1,# 00001111B
CALL DELAY
MOV P1,# 11110000B
CALL DELAY
MOV P1,# 00001111B
CALL DELAY
MOV P1,# 11110000B
CALL DELAY
MOV P1,# 00001111B
CALL DELAY
MOV P1,# 11110000B
CALL DELAY
MOV P1,# 00001111B
CALL DELAY
MOV P1,# 11110000B
CALL DELAY
SJMP Barto

DELAY: MOV R0,#4
DELAY1: MOV R1,#0FFH
DELAY2: MOV R2,#0FFH

DJNZ R2,$
DJNZ R1,DELAY2
DJNZ R0,DELAY1
RET

END

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Siswa lebih termotifasi karena program yang telah dibuat, dapat langsung diaplikasikan secara cepat, dan apabila ada bahasa pemrograman yang salah, ASM 51 dapat langsung menunjukkan bahasa yang salah untuk dapat diperbaiki sebelum di compiling
2. Guru lebih mudah menyampaikan tujuan akhir pemelajaran/kompetensi yang ingin dicapai kepada peserta didik
3. Dengan adanya perangkat ini kita dapat mengefisien waktu, dan dana.
B. Saran.
Setelah Menarik Kesimpulan, maka dapatlah diberikan saran
saran sebagai berikut :
1 Kepada Pihak Sekolah, agar dapat mengadakan peralatan Aplikasi berikut Down loader DT-HIQ
2 Agar guru lebih termotivasi untuk berkarya, kepada pihak sekolah diharapkan dapat memberi rangsangan, termasuk dana


DAFTAR PUSTAKA

Anton F.p. Van Putten “ Electronics Measurements Systems “ , Prentice hall.
DE. Pippenger and E.J. Tababen “ Linear and Interface Circuits Aplications, Texas Instruments Engineering Staff
Hogenboom, P, “ Data sheet Book 3. Catatan Aplikasi ” , PT Elek Media Komputindo, Gramedia - Jakarta
Ibrahim KF: “ Teknik digital ” , Andi Yogyakarta 1996A
Rachmad Setiawan, “ Mikrokontroller MCS – 51” , Graha Ilmu 2006
Web EE.com ; www. Webee.com


BIOGRAFI SINGKAT

Barto, Kelahiran Makassar Sulawesi Selatan 29 Maret Tahun 1967
Riwayat Penedidikan :
SDN Karuwisi II di Makassar ( 1973 – 1980 )
SMP Katolik Garuda di Makassar ( 1980 – 1983)
SMA Kartika Chandra Kirana di Makassar ( 1983 – 1986 )
Pada tahun 1986, kuliah di UNHAS pada Falkultas Non Gelar Teknologi, dan pada tahun 1987 kuliah di IKIP Ujung Pandang dan menyelesaikan Pendidikan Strata Satu (SI) Jurusan Pedidikan Teknik Elektro tahun 1992. Tahun 1999 – 2002 kuliah di UNSIMAR Poso Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, dan pada tahun 2005, mendapat kesempatan kuliah D4 di Institut Teknologi Bandung, Departemen Teknik Elektro / Sekolah Teknik Elektro Dan Informatika pada Jurusan Teknik Otomasi Industri dengan beasiswa DIKMENJUR, dan menyelesaikan pendidikan tahun 2007 dengan gelar Sarjana Sains Terapan ( S.ST). Pasca Sarjana Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada ( UGM) tahun 2008-2010. Dengan Gelar M.Eng.
Pengalaman Mengajar :
- STM Poso ( 1993 – 2003 ), Mata diklat Kontrol motor
- FKIP Universitas Sintuwu Maroso Poso(1999 – 2000), Mata Kuliah Kalkulus
- SMKN I Makale 2003 – Sekarang, pada jurusan Teknik Komputer dan jaringan
. Alamat yang bisa dihubungi : e-mail : bartoopascall@yahoo.co.id . nomor Hp : 081354383109, atau ke alamat Sekolah SMKN I Makale telp. ( 0423) 24171

Pelaksanaan PKG dan PKB

0 komentar


Pengembangan profesi guru ditujukan untuk membentuk guru yang profesional, bermartabat dan sejahtera. Hal ini didasarkan atas kesepakatan perundangan yang diterakan pada Pembukaan UUD, Pasal 20 ayat 1 UUD 45 berhak mengembangkan diri. Pengembangan diri dapat diperoleh salah satunya melalui pendidikan. diharapkan dengan diperolehnya pendidikan dapat terbentuk bangsa yang cerdas. Sehingga kemudian nantinya dapat diperoleh peningkatan kesejahtraan masyarakat yang berkeadilan. Mengacu pada tujuan mulia tadi, maka dibutuhkan guru yang profesional.
Regulasi yang jelas dibutuhkan untuk membingkai guru profesional. Bingkai profesi yang pertama, guru diharapkan memiliki empat kompetensi yaitu pedagogi, sosial, kepribadian dan profesional . dari keempat kompetensi, kompetensi kepribadian dan sosial merupakan kompetensi yang agak sulit dikuasai. Kehadiran MGMP merupakan sarana sosialisasi untuk  meningkatkan kompetensi kepribadian dan sosial.
Guru profesional adalah kunci untuk melaksanakan pendidikan yang berkualitas.  Berdasarkan Permennegpan & RB (Reformasi Birokrasi) No. 16/2009, guru profesional harus memenuhi: 1) berlatar belakang S1, 2) CPNS guru harus mengikuti Program Induksi (1 sampai 2 tahun) dan Pendidikan Pelatihan Pra-Jabatan, 3) Empat jabatan fungsional guru (Pertama, Muda, Madya, dan Utama), 4) beban mengajar guru 24 jam sampai 40 jam tatap muka perminggu atau membimbing 150-250 konseli per tahun, dan 5) Instansi pembina Jabatan Fungsional adalah Kemendiknas, 6) penilaian kinerja guru dilakukan setiap tahun (Formatif dan Sumatif), 7) nilai kinerja dikonversikan kedalam angka kredit yang harus dicapai (125%, 100%, 75%, 50%, 25%), 8) peningkatan karir guru ditetapkan melalui penilaian angka kredit oleh Tim Penilai, 9) jumlah angka kredit yang diperlukan untuk kenaikan jabatan terdiri dari:
a)      Unsur Utama (Pendidikan, PK Guru dan PKB) lebih kurang 90%
b)      Unsur penunjang kurang lebih 10%
Penilaian kinerja guru merupakan penilaian dari tiap butir kegiatan tugas utama dalam rangka pembinaan karir kepangkatan dan jabatannya. Dilakukan setiap tahun oleh kepala sekolah atau guru yang diserahi tugas untuk memberikan penilaian kinerja guru. Penilaian didasarkan kepada 14 kompetensi bagi guru mata pelajaran, 17 kompetensi bagi BK, atau guru yang mendapatkan tugas tambahan (KS, Wakasek, Kepala Lab).
Hasil PK guru harus menjadi bahan evaluasi diri bagi guru untuk mengembangkan potensi dan krir. Selain itu, dapat menjadi acuan bagi sekolah untuk merencanakan pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB). Terakhir, untuk mendi dasar pemberian nilai prestasi kerja guru dalam rangka pengembangan karir guru sesuai dengan permenegpan.
Penilaian formatif berfungsi sebagai bahan untuk penyusunan kompetensi dan perencanaan program PKB tahunan bagi guru. Sedangkan hasil penilaian sumatif digunakan untuk memperikan nilai prestasi kerja guru untuk menghitung perolehan angka kredit guru pada tahun tersebut.
Komponen pedagogi ada 7 kompetensi, kepribadian ada 3 kompetensi, sosial 2 dan profesional 2.
Kompetensi pedagogi mencakup:
  1. Mengenal karakteristik anak didik
  2. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembejalaran yang mendidik
  3. Pengembangan kurikulum
  4. Kegiatan pembelajaran yang mendidik
  5. Memahami dan mengembangakan potensi
  6. Komunikasi dengan peserta didik
  7. Penilaian dan evaluasi
Kompetensi kepribadian (3)
  1. Bertindak sesuai denga norma agama
  2. Menunjukkan pribadi yang dewasa dan teladan
  3. Etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru
Kompetensi sosial
  1. Bersikap inovatif, bertindak obyektif, serta tidak diskriminatif
  2. Komunikasi dengan sesama guru, tenaga pendidikan, orang tua peserta didik dan masyarakat
Kompetensi profesional
  1. Penguasaan materi struktur konsep dan pola pikr keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu
  2. Mengembangkan keprofesian melalhui tindakan reflektif

Setting Pada Billing Warnet

0 komentar


SETTING PADA BILLING WARNET

Bagi kamu-kamu yang kepingin buka usaha "warnet" ada baiknya mempelajari bagaimana cara-cara setting billing yang kita butuhkan sesuai kemauan kita. Nah, berikut aku sampaikan beberapa caranya, dimana cara-cara ini aku copy dari weblog-nya "www.billingexplorer.com", berikut penjelasannya :
System Paket
Tarif Biaya yang digunakan untuk sekali akses/login.

Misal Paket 1:

Biaya Rp. 10.000 Untuk main selama 5 Jam

User login langsung dikenakan biaya Rp. 10.000,-

Apabila sudah 5 Jam, Billing otomatis disconnect.
Biaya Paket 1

Biaya Rp. 10.000 Untuk main selama 5 Jam
Langkah-langkah:

1. File - Setting Konfigurasi - System Paket

2. Klik baris tabel pertama,

sehingga muncul keterangan "Paket No 1"

3. Biaya di-isi 10000

4. Durasi di-isi 300

(nilai 300 berasal dari 5 jam x 60 menit = 300)

5. Tekan OK

Lakukan langkah yang sama untuk Paket yang lainnya.

Cara Login System Paket

Langkah-langkah:

1. Pada Client, User menekan tombol Paket

2. User Name bisa di-isi bebas.

3. Untuk Password, User diberikan password oleh server/operator.

4. Server/Operator bisa mensetting password Login Paket melalui menu

File - Password Login - Password Login Paket

Kemudian tekan OK.

5. Password ini bisa diubah setiap saat oleh server/operator
Login "Group"
Fungsi Login Group

Pemilik warnet/games bisa menerapkan login group.

Login ini diperlukan apabila Pemilik warnet/games,

menerapkan aturan : User yang mengajak temannya

lebih dari 3 orang, akan mendapatkan potongan biaya atau tarif yang lebih murah.
Login Group:

30 menit pertama, Biaya Rp. 2000,-

Selanjutnya per 5 menit, Biaya Rp. 500,-
Langkah-Langkah:

1. Masuk ke setting biaya

2. Pilih Option "Biaya dengan System Group"

3. Tekan Tombol "System Group" sehingga ditampilkan Tabel Biaya

4. Pada Tabel Nomor 3, isikan data

Waktu minimal = 30, Biaya 2000

Selanjutnya = 5, Biaya 500

Tekan OK.

5. Dibagian bawah Login Group diisi Nomor 3

Tekan OK
Cara Menggunakan Login Group
Langkah-langkah:

1. Pada Client, User menekan tombol Group

2. User Name bisa di-isi bebas.

3. Untuk Password, User diberikan password oleh server/operator.

4. Server/Operator bisa mensetting password Login Group melalui menu

File - Password Login - Password Login Group

Kemudian tekan OK.

5. Password ini bisa diubah setiap saat oleh server/operator
System Pre-Paid
User terlebih dahulu membayar uang (account) dimuka, selanjutnya server/operator bisa memberikan password & User Name untuk Login.
Account akan berkurang sesuai dengan jumlah pemakaian.
Apabila Account habis, Billing otomatis akan disconnect.

Apabila belum habis dan User men-disconnect Billing, account ini bisa digunakan User tsb. untuk Login pada waktu lainnya.



Pada warnet/games bisa diterapkan system pre-paid

dengan perhitungan yang berbeda untuk tiap-tiap

anggota member.



Langkah-langkah :

1. Buat member pre-paid untuk user

1. Menu Tools-Member Area-View and List

2. Masukkan password (admin/input member)

3. Isikan user name,password, account,masa aktif untuk member tsb.

4. untuk Nomor Group, isikan sesuai dengan nomor

pada Tabel Perhitungan Biaya system group.

5. Tekan tombol "Add"

Bila berhasil, akan keluar pesan "Add member Success"

6. Pada Client, user dapat Login melalui tembol "Pre-Paid"



Pada suatu Warnet/Games, ada 3 Ruangan,

dengan perhitungan tarif pre-paid yang berbeda.

Misal

Ruangan 1 Kelas VIP

Biaya Rp. 6000/Jam

Ruangan 2 Kelas Semi-VIP

Biaya Rp. 4500/Jam

Ruangan 3 Kelas Ekonomi

Biaya Rp. 2500/Jam



Langkah-Langkah:

1. Masuk ke setting biaya

2. Pilih Option "Biaya dengan System Group"

3. Tekan Tombol "System Group" sehingga ditampilkan Tabel Biaya

4. Jika Tabel Nomor 1 - 3 sudah terisi, masukkan tarif

mulai dari nomor 4.



Misal:

Pada Tabel Nomor 4, isikan data

Waktu minimal = 60, Biaya 6000

Selanjutnya = 60, Biaya 6000

Pada Tabel Nomor 5, isikan data

Waktu minimal = 60, Biaya 4500

Selanjutnya = 60, Biaya 4500

Pada Tabel Nomor 6, isikan data

Waktu minimal = 60, Biaya 2500

Selanjutnya = 60, Biaya 2500

Tekan OK.

5. Buat Member untuk tiap-tiap User.

Isikan Nomor Group User tsb. dengan Nomor pada Tabel

Perhitungan seperti yang telah didefinisikan diatas,

yaitu 4 atau 5 atau 6.



Password Untuk Membuat Data Member/Pre-Paid



Untuk Membuat Data Member/Pre-Paid,

selain menggunakan Password Administrator,

bisa juga menggunakan Password Input Data Member



Setting Password Input Data Member



Langkah-langkah:

1. File-Setting Konfigurasi- Password + Setting Client

2. Pada Bagian "Password Input Data Member", isikan

sesuai dengan Password yang akan digunakan.

3. Tekan OK



Password Admin Client



Password Admin Client digunakan untuk

setting konfigurasi pada Billing Client, seperti

Merubah Tampilan Logo/Gambar Pada Background Client,

Disable Registry PC Client, Disable Network PC Client, Text Scrool dsb.



Setting Password Admin Client



Langkah-langkah merubah Password Admin Client:

1. Menu File- Ganti Password Admin Client

2. Masukan Password Admin Client yang lama

3. Isikan baris berikutnya dengan Password baru

dan ulangi untuk baris berikutnya.

4. Tekan OK.



Password Adminisitrator Server



Password Adminisitrator Server digunakan untuk

setting konfigurasi pada Billing Server, seperti

Setting Perhitungan Tarif Biaya, Diskon, Edit Transaksi Penjualan dsb

Setting Tabel Perhitungan

Setting Email server

Setting Daftar operator

Setting Password-Password

Dan Setting Lainnya



Setting Password Adminisitrator Server



Langkah-langkah merubah Password Administrator Server:

1. File-Setting Konfigurasi- Password + Setting Client

2. Pada Bagian "Password Administrator"

Masukan Password Administrator yang lama

3. Isikan baris berikutnya dengan Password baru

dan ulangi untuk baris berikutnya.

4. Tekan Set Active



Password Untuk Exit Billing Server



Untuk Menutup Billing Server, selain menggunakan Password Administrator, bisa juga menggunakan Password Exit Billing Server.

Langkah-langkah merubah Password :

1. File-Setting Konfigurasi- Password + Setting Client

2. Pada Bagian "Password Exit Billing Server", isikan

sesuai dengan Password yang akan digunakan.

3. Tekan OK



Password Untuk Exit Billing Client



Untuk Menutup Billing Client, bisa menggunakan Password Exit Billing Client.

Langkah-langkah merubah Password :

1. File-Setting Konfigurasi- Password + Setting Client

2. Pada Bagian "Password Exit Billing Client", isikan

sesuai dengan Password yang akan digunakan.

3. Tekan OK



Password Database Admin



Untuk versi Security#1, ada tambahan Password Database Admin. Password ini digunakan khusus untuk membuka dan edit Report Database.

Langkah-langkah merubah Password Database Admin :

1. File-Setting Konfigurasi- Password + Setting Client

2. Pada Bagian "Password Database"

Masukan Password Database Admin yang lama

3. Isikan baris berikutnya dengan Password baru

dan ulangi untuk baris berikutnya.

4. Tekan Set Active.

CARA SETTING HOTSPOT MENGGUNAKAN LINKSYS

0 komentar


CARA SETTING HOTSPOT MENGGUNAKAN LINKSYS WIRELESS-G MODEL WRT54G




Linksys WRT54G merupakan Broadband Router yang dilengkapi dengan wireless b/g. WRT54G dapat dijadikan sebagai server gateway untuk koneksi internet anda, umumnya yang berkonseksikan “broadband internet accses”. Untuk mengkonfigurasi router ini sangatlah mudah. Berikut langkah-langkahnya :



Pertama “Setting IP WAN & LAN” :



- Siapkan/nyalakan Router Linksys WRT54G anda.

- Sambungkan kabel data (UTP Straight kabel) ke port LAN komputer/Laptop Anda.

- Setting IP pada komputer/laptop anda menjadi DHCP agar lebih mudah.

- cek ip, netmask dan gateway yang diterima komputer anda.

- buka browser anda dan masukkan ip gateway komputer anda tadi, defaultnya http://192.168.1.1/ .

- Nah, akan muncul form password untuk akses ke routernya, default user/pass : admin

- Pada internet Connection Type nya silahkan dipilih : DHCP atau Static, ini tergantug ISP yang Anda gunakan.

- lalu masuk ke settingan Network Setup, Settingan LAN sesuai keinginan anda atau biarkan saja untuk default.





Jika Anda memilih DHCP disable maka anda harus memasukkan IP, Netmask, Gateway dan DNS secara manual untuk setiap klien.



- untuk Time Zonenya pilih GMT+7 untuk indonesia, yang laen terserah Anda.

- lalu Save Setting.

- Nah sampai disini, Client yang menggunakan kabel sudah dapat terkoneksi ke internet.



Kedua “Settingan WIFI” :



- pilih Menu Wireless

- wireless network mode sebaiknya dipilih Mixed agar support ke tipe wifi b dan g

- ganti SSID sesuai kemauan Anda.



Untuk SSID Sebaiknya menggunakan Huruf Kecil Semua, dan ganti spasi dengan garis bawah untuk mencegah, beberapa perangkat wifi penerima yang tidak support.



- wireless Channel silahkan dipilih default aja, kecuali ditempat anda terdapat wifi/hotspot lain

Nah, untuk hal ini bisa anda ganti dengan channel yang belum terpakai.

- lalu pilih Save Setting.

- Nah sampai disini, Client yang menggunakan kable & WIFI sudah dapat terkoneksi ke internet.



Untuk mengamankan koneksi WIFI anda, sebaiknya anda memasang security pada wifi anda.

Tipe security anda bisa berupa WEP atau WPA. namun untuk lebih universal pilih saja WEP yang 64 bit. Cara konfigurasinya :

- pilh Menu Wireless – Wireless Security.

- pilih security mode = WEP

- pilih default transmite key = 1

- pilih WEP Encryption = 64 bits10 hex digits

- masukkan passphrase dan klik generate, Maka akan tercipta 4 key untuk akses password wifi anda, silahkan gunakan Key 1, (karena anda memilih defaul transmitenya = 1).

- lalu Save Setting

- Nah koneksi WIFI anda sekarang sudah Secure (dalam artian memiliki password dan terenkripsi).

Cukup itu saja konfigurasi dasarnya, Tidak terlalu sulit khan ????

Cara Setting Linksys

0 komentar


Linksys WRT54G merupakan Broadband Router yang dilengkapi dengan wireless b/g. WRT54G dapat dijadikan sebagai server gateway untuk koneksi internet anda, umumnya yang berkonseksikan "broadband internet accses". Untuk mengkonfigurasi router ini sangatlah mudah. Berikut langkah-langkahnya :

pertama "Setting IP WAN & LAN" :

- Siapkan/nyalakan Router Linksys WRT54G anda.

- Sambungkan kabel data (UTP Straight kabel) ke port LAN komputer/Laptop Anda.

- Setting IP pada komputer/laptop anda menjadi DHCP agar lebih mudah.

- cek ip, netmask dan gateway yang diterima komputer anda.

- buka browser anda dan masukkan ip gateway komputer anda tadi, defaultnya http://192.168.1.1/ .

- Nah, akan muncul form password untuk akses ke routernya, default user/pass : admin

- Pada internet Connection Type nya silahkan dipilih : DHCP atau Static, ini tergantug ISP yang Anda gunakan.

- lalu masuk ke settingan Network Setup, Settingan LAN sesuai keinginan anda atau biarkan saja untuk default.

Jika Anda memilih DHCP disable maka anda harus memasukkan IP, Netmask, Gateway dan DNS secara manual untuk setiap klien.

- untuk Time Zonenya pilih GMT+7 untuk indonesia, yang laen terserah Anda.

- lalu Save Setting.

- Nah sampai disini, Client yang menggunakan kabel sudah dapat terkoneksi ke internet.
Kedua "Settingan WIFI" :

- pilih Menu Wireless

- wireless network mode sebaiknya dipilih Mixed agar support ke tipe wifi b dan g

- ganti SSID sesuai kemauan Anda.

Untuk SSID Sebaiknya menggunakan Huruf Kecil Semua, dan ganti spasi dengan garis bawah untuk mencegah, beberapa perangkat wifi penerima yang tidak support.

- wireless Channel silahkan dipilih default aja, kecuali ditempat anda terdapat wifi/hotspot lain

Nah, untuk hal ini bisa anda ganti dengan channel yang belum terpakai.

- lalu pilih Save Setting.

- Nah sampai disini, Client yang menggunakan kable & WIFI sudah dapat terkoneksi ke internet.

Untuk mengamankan koneksi WIFI anda, sebaiknya anda memasang security pada wifi anda.

Tipe security anda bisa berupa WEP atau WPA. namun untuk lebih universal pilih saja WEP yang 64 bit. Cara konfigurasinya :

- pilh Menu Wireless - Wireless Security.

- pilih security mode = WEP

- pilih default transmite key = 1

- pilih WEP Encryption = 64 bits10 hex digits

- masukkan passphrase dan klik generate, Maka akan tercipta 4 key untuk akses password wifi anda, silahkan gunakan Key 1, (karena anda memilih defaul transmitenya = 1).

- lalu Save Setting

- Nah koneksi WIFI anda sekarang sudah Secure (dalam artian memiliki password dan terenkripsi).

Cukup itu saja konfigurasi dasarnya, Tidak terlalu sulit khan ????

Cara membuat marquee pada blog

0 komentar


Cara membuat marquee pada blog
Sering kali kita melihat blog yang dihiasi oleh tulisan atau kata-kata yang berjalan di blog teman-teman kita. mungkin sebagian besar sudah mengetahuinya. tapi disini ade mencoba untuk sharing kepada teman-teman yang belum mengetahui cara pembuatannya.

Note: yang akan ade bahas ini merupakan tulisan berjalan biasa bukan tulisan berjalan yang apabila ada mouse di area tulisan itu akan berhenti.

berikut cara pembuatannya :

  1. Login ke Blogger
  2. Kemudian klik Tata Letak dan Elemen Halaman
  3. Ketika sudah berada di Elemen Halaman klik Tambah Gadget
  4. Lalu pilih HTML/JavaScript
  5. Langkah selanjutnya masukkan kode marquee yang anda inginkan seperti contoh dibawah ini :



1. Teks berjalan dari kanan ke kiri


kode :
hasil :

Contoh Tulisan Berjalan



2. Teks berjalan dari kiri ke kanan


kode :
hasil :

Contoh Tulisan Berjalan


3. Teks berjalan bolak balik


kode :
hasil :

Contoh Tulisan Berjalan



4. Teks berjalan dari atas ke bawah


kode :
hasil :

Contoh Tulisan Berjalan



5. Teks berjalan dari bawah ke atas


kode :
hasil :

Contoh Tulisan Berjalan



6. Teks berjalan mondar-mandir


kode :
hasil :

Contoh Tulisan Berjalan



7. Teks berjalan zig-zag nembus


kode :
hasil :


Contoh Tulisan Berjalan




8. Teks berjalan zig-zag mantul


kode :
hasil :




Contoh Tulisan Berjalan

Langkah Selanjutnya adalah mengganti tulisan
Contoh Tulisan Berjalan
dengan tulisan atau kata-kata yang anda inginkan.

Ket :
# direction="left/right/up/down" --> Mengatur arah gerakan teks.

# scrollamount="angka" --> mengatur kecepatan gerakan dalam pixel, semakin besar angka semakin cepat gerakannya.

# behavior="scroll/slide/alternate" --> Untuk mengatur perilaku gerakan :
~> Scroll --> teks bergerak berputar
~> Slide--> teks bergerak sekali lalu berhenti
~> Alternate --> teks bergerak dari kiri kekanan lalu balik lagi ( bolak-balik bo)

# Fungsi dari :

.............
adalah agar tulisan tersebut selalu berada di tengah.

SEMOGA BERHASIL

SENSOR DAN TRANDUSER

0 komentar



Sensor dan Transduser
Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah mempelajari bab ini diharapkan mahasiswa memahami pengertian sensor dan transduser dan penggunaannya dalam sistem kendali.
Tujuan Pembelajaran Khusus :
Setelah mempelajari topik per topik dalam bab ini, mahasiswa diharapkan :
1. Dapat menyebutkan definisi dan perbedaan dari sensor, transduser dan alat ukur
2. Mampu menyebutkan persyaratan umum dalam memilih sensor dan transduser
3. Dapat menerangkan beberapa jenis sensor dan transduser yang ada di industri
4. Mengerti tentang klasifikasi sensor dan transduser secara umum.

Pendahuluan :

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dari masa ke masa berkembang cepat terutama dibidang otomasi industri. Perkembangan ini tampak jelas di industri pemabrikan, dimana sebelumnya banyak pekerjaan menggunakan tangan manusia, kemudian beralih menggunakan mesin, berikutnya dengan electro-mechanic (semi otomatis) dan sekarang sudah menggunakan robotic (full automatic) seperti penggunaan Flexible Manufacturing Systems (FMS) dan Computerized Integrated Manufacture (CIM) dan sebagainya.
Model apapun yang digunakan dalam sistem otomasi pemabrikan sangat tergantung kepada keandalan sistem kendali yang dipakai. Hasil penelitian menunjukan secanggih apapun sistem kendali yang dipakai akan sangat tergantung kepada sensor maupun transduser yang digunakan..
Sensor dan transduser merupakan peralatan atau komponen yang mempunyai peranan penting dalam sebuah sistem pengaturan otomatis. Ketepatan dan kesesuaian dalam memilih sebuah sensor akan sangat menentukan kinerja dari sistem pengaturan secara otomatis.
Besaran masukan pada kebanyakan sistem kendali adalah bukan besaran listrik, seperti besaran fisika, kimia, mekanis dan sebagainya. Untuk memakaikan besaran listrik pada sistem pengukuran, atau sistem manipulasi atau sistem pengontrolan, maka biasanya besaran yang bukan listrik diubah terlebih dahulu menjadi suatu sinyal listrik melalui sebuah alat yang disebut transducer
Sebelum lebih jauh kita mempelajari sensor dan transduser ada sebuah alat lagi yang selalu melengkapi dan mengiringi keberadaan sensor dan transduser dalam sebuah sistem pengukuran, atau sistem manipulasi, maupun sistem pengontrolan yaitu yang disebut alat ukur.


1.1. Definisi-definisi
D Sharon, dkk (1982), mengatakan sensor adalah suatu peralatan yang berfungsi untuk mendeteksi gejala-gejala atau sinyal-sinyal yang berasal dari perubahan suatu energi seperti energi listrik, energi fisika, energi kimia, energi biologi, energi mekanik dan sebagainya..
Contoh; Camera sebagai sensor penglihatan, telinga sebagai sensor pendengaran, kulit sebagai sensor peraba, LDR (light dependent resistance) sebagai sensor cahaya, dan lainnya.
William D.C, (1993), mengatakan transduser adalah sebuah alat yang bila digerakan oleh suatu energi di dalam sebuah sistem transmisi, akan menyalurkan energi tersebut dalam bentuk yang sama atau dalam bentuk yang berlainan ke sistem transmisi berikutnya”. Transmisi energi ini bisa berupa listrik, mekanik, kimia, optic (radiasi) atau thermal (panas).
Contoh; generator adalah transduser yang merubah energi mekanik menjadi energi listrik, motor adalah transduser yang merubah energi listrik menjadi energi mekanik, dan sebagainya.
William D.C, (1993), mengatakan alat ukur adalah sesuatu alat yang berfungsi memberikan batasan nilai atau harga tertentu dari gejala-gejala atau sinyal yang berasal dari perubahan suatu energi.
Contoh: voltmeter, ampermeter untuk sinyal listrik; tachometer, speedometer untuk kecepatan gerak mekanik, lux-meter untuk intensitas cahaya, dan sebagainya.


1.2. Peryaratan Umum Sensor dan Transduser
Dalam memilih peralatan sensor dan transduser yang tepat dan sesuai dengan sistem yang akan disensor maka perlu diperhatikan persyaratan umum sensor berikut ini : (D Sharon, dkk, 1982)
a. Linearitas
Ada banyak sensor yang menghasilkan sinyal keluaran yang berubah secara kontinyu sebagai tanggapan terhadap masukan yang berubah secara kontinyu. Sebagai contoh, sebuah sensor panas dapat menghasilkan tegangan sesuai dengan panas yang dirasakannya. Dalam kasus seperti ini, biasanya dapat diketahui secara tepat bagaimana perubahan keluaran dibandingkan dengan masukannya berupa sebuah grafik. .

b. Sensitivitas
Sensitivitas akan menunjukan seberapa jauh kepekaan sensor terhadap kuantitas yang diukur. Sensitivitas sering juga dinyatakan dengan bilangan yang menunjukan “perubahan keluaran dibandingkan unit perubahan masukan”. Beberepa sensor panas dapat memiliki kepekaan yang dinyatakan dengan “satu volt per derajat”, yang berarti perubahan satu derajat pada masukan akan menghasilkan perubahan satu volt pada keluarannya. Sensor panas lainnya dapat saja memiliki kepekaan “dua volt per derajat”, yang berarti memiliki kepakaan dua kali dari sensor yang pertama. Linieritas sensor juga mempengaruhi sensitivitas dari sensor. Apabila tanggapannya linier, maka sensitivitasnya juga akan sama untuk jangkauan pengukuran keseluruhan.
c. Tanggapan WaktuTanggapan waktu pada sensor menunjukan seberapa cepat tanggapannya terhadap perubahan masukan. Sebagai contoh, instrumen dengan tanggapan frekuensi yang jelek adalah sebuah termometer merkuri. Masukannya adalah temperatur dan keluarannya adalah posisi merkuri. Misalkan perubahan temperatur terjadi sedikit demi sedikit dan kontinyu terhadap waktu, Frekuensi adalah jumlah siklus dalam satu detik dan diberikan dalam satuan hertz (Hz). { 1 hertz berarti 1 siklus per detik, 1 kilohertz berarti 1000 siklus per detik]. Pada frekuensi rendah, yaitu pada saat temperatur berubah secara lambat, termometer akan mengikuti perubahan tersebut dengan “setia”. Tetapi apabila perubahan temperatur sangat cepat maka tidak diharapkan akan melihat perubahan besar pada termometer merkuri, karena ia bersifat lamban dan hanya akan menunjukan temperatur rata-rata.
Ada bermacam cara untuk menyatakan tanggapan frekuensi sebuah sensor. Misalnya “satu milivolt pada 500 hertz”. Tanggapan frekuensi dapat pula dinyatakan dengan “decibel (db)”, yaitu untuk membandingkan daya keluaran pada frekuensi tertentu dengan daya keluaran pada frekuensi referensi.

Yayan I.B, (1998), mengatakan ketentuan lain yang perlu diperhatikan dalam memilih sensor yang tepat adalah dengan mengajukan beberapa pertanyaan berikut ini:
a. Apakah ukuran fisik sensor cukup memenuhi untuk dipasang pada tempat yang diperlukan?
b. Apakah ia cukup akurat?
c. Apakah ia bekerja pada jangkauan yang sesuai?
d. Apakah ia akan mempengaruhi kuantitas yang sedang diukur?.
Sebagai contoh, bila sebuah sensor panas yang besar dicelupkan kedalam jumlah air air yang kecil, malah menimbulkan efek memanaskan air tersebut, bukan menyensornya.
e. Apakah ia tidak mudah rusak dalam pemakaiannya?.
f. Apakah ia dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya?
g. Apakah biayanya terlalu mahal?

1.3. Jenis Sensor dan Transduser
Perkembangan sensor dan transduser sangat cepat sesuai kemajuan teknologi otomasi, semakin komplek suatu sistem otomasi dibangun maka semakin banyak jenis sensor yang digunakan.
Robotik adalah sebagai contoh penerapan sistem otomasi yang kompleks, disini sensor yang digunakan dapat dikatagorikan menjadi dua jenis sensor yaitu: (D Sharon, dkk, 1982)
a. Internal sensor, yaitu sensor yang dipasang di dalam bodi robot.
Sensor internal diperlukan untuk mengamati posisi, kecepatan, dan akselerasi berbagai sambungan mekanik pada robot, dan merupakan bagian dari mekanisme servo.
b. External sensor, yaitu sensor yang dipasang diluar bodi robot.
Sensor eksternal diperlukan karena dua macam alasan yaitu:
1) Untuk keamanan dan
2) Untuk penuntun.
Yang dimaksud untuk keamanan” adalah termasuk keamanan robot, yaitu perlindungan terhadap robot dari kerusakan yang ditimbulkannya sendiri, serta keamanan untuk peralatan, komponen, dan orang-orang dilingkungan dimana robot tersebut digunakan. Berikut ini adalah dua contoh sederhana untuk mengilustrasikan kasus diatas.
Contoh pertama: andaikan sebuah robot bergerak keposisinya yang baru dan ia menemui suatu halangan, yang dapat berupa mesin lain misalnya. Apabila robot tidak memiliki sensor yang mampu mendeteksi halangan tersebut, baik sebelum atau setelah terjadi kontak, maka akibatnya akan terjadi kerusakan.
Contoh kedua: sensor untuk keamanan diilustrasikan dengan problem robot dalam mengambil sebuah telur. Apabila pada robot dipasang pencengkram mekanik (gripper), maka sensor harus dapat mengukur seberapa besar tenaga yang tepat untuk mengambil telor tersebut. Tenaga yang terlalu besar akan menyebabkan pecahnya telur, sedangkan apabila terlalu kecil telur akan jatuh terlepas.
Kini bagaimana dengan sensor untuk penuntun atau pemandu?. Katogori ini sangatlah luas, tetapi contoh berikut akan memberikan pertimbangan.
Contoh pertama: komponen yang terletak diatas ban berjalan tiba di depan robot yang diprogram untuk menyemprotnya. Apa yang akan terjadi bila sebuah komponen hilang atau dalam posisi yang salah?. Robot tentunya harus memiliki sensor yang dapat mendeteksi ada tidaknya komponen, karena bila tidak ia akan menyemprot tempat yang kosong. Meskipun tidak terjadi kerusakan, tetapi hal ini bukanlah sesuatu yang diharapkan terjadi pada suatu pabrik.
Contoh kedua: sensor untuk penuntun diharapkan cukup canggih dalam pengelasan. Untuk melakukan operasi dengan baik, robot haruslah menggerakkan tangkai las sepanjang garis las yang telah ditentukan, dan juga bergerak dengan kecepatan yang tetap serta mempertahankan suatu jarak tertentu dengan permukaannya.

Sesuai dengan fungsi sensor sebagai pendeteksi sinyal dan meng-informasikan sinyal tersebut ke sistem berikutnya, maka peranan dan fungsi sensor akan dilanjutkan oleh transduser. Karena keterkaitan antara sensor dan transduser begitu erat maka pemilihan transduser yang tepat dan sesuai juga perlu diperhatikan.

1.4. Klasifikasi Sensor
Secara umum berdasarkan fungsi dan penggunaannya sensor dapat dikelompokan menjadi 3 bagian yaitu:
a. sensor thermal (panas)
b. sensor mekanis
c. sensor optik (cahaya)

Sensor thermal adalah sensor yang digunakan untuk mendeteksi gejala perubahan panas/temperature/suhu pada suatu dimensi benda atau dimensi ruang tertentu.
Contohnya; bimetal, termistor, termokopel, RTD, photo transistor, photo dioda, photo multiplier, photovoltaik, infrared pyrometer, hygrometer, dsb.
Sensor mekanis adalah sensor yang mendeteksi perubahan gerak mekanis, seperti perpindahan atau pergeseran atau posisi, gerak lurus dan melingkar, tekanan, aliran, level dsb.
Contoh; strain gage, linear variable deferential transformer (LVDT), proximity, potensiometer, load cell, bourdon tube, dsb.
Sensor optic atau cahaya adalah sensor yang mendeteksi perubahan cahaya dari sumber cahaya, pantulan cahaya ataupun bias cahaya yang mengernai benda atau ruangan.
Contoh; photo cell, photo transistor, photo diode, photo voltaic, photo multiplier, pyrometer optic, dsb.


1.5. Klasifikasi Transduser (William D.C, 1993)a. Self generating transduser (transduser pembangkit sendiri)
Self generating transduser adalah transduser yang hanya memerlukan satu sumber energi.
Contoh: piezo electric, termocouple, photovoltatic, termistor, dsb.
Ciri transduser ini adalah dihasilkannya suatu energi listrik dari transduser secara langsung. Dalam hal ini transduser berperan sebagai sumber tegangan.
b. External power transduser (transduser daya dari luar)
External power transduser adalah transduser yang memerlukan sejumlah energi dari luar untuk menghasilkan suatu keluaran.
Contoh: RTD (resistance thermal detector), Starin gauge, LVDT (linier variable differential transformer), Potensiometer, NTC, dsb.

Contoh Soal :
1. Apa saja peranan dan fungsi sensor dalam sistem kendali industri ?
2. Sebutkan syarat-syarat dalam memilih sensor yang baik ?
3. Sebutkan beberapa jenis sensor yang ada pada sebuah robotik ?

Jawaban :
1. Sensor berperan untuk mendeteksi gejala perubahan informasi sinyal dalam sistem kontrol, dan berfungsi sebagai umpan balik pada sebuah sistem kendali otomatis.
2. Syarat sebuah sensor adalah linearitas, sensitivitas dan respon time
3. Jenis sensor pada robotik adalah: internal sensor dan eksternal sensor

Latihan :
1. Apa yang dimaksud dengan sensor, transduser dan alat ukur
2. Jelaskan perbedaan ketiganya.
3. Persyaratan umum sensor dan transduser adalah linearitas, sensitivitas dan tanggapan respon. Jelaskan maksud dari masing-masing syarat tersebut.
4. Jelaskan perbedaan antara transduser aktif dan transduser pasif.

Rangkuman :
Bab 1 ini mejelaskan tentang; definisi-definisi, persyaratan, jenis-jenis dan klasifikasi sensor dan transduser.

Review :
1. Jelaskan dengan gambar yang dimaksud dengan tanggapan linear dan non linear ?
2. Adakah ketentuan lain yang harus diketahui dalam memilih sensor dan transduser
3. Apa fungsi dan kegunaan external sensor pada sebuah robot ?
4. Sebutkan beberapa buah transduser aktif dan transduser pasif yang anda ketahui ?

Konsep belajar Aktif

0 komentar


Satu
Memperkenalkan Konsep Belajar Aktif

Lebih dari 2400 tahun yang lalu Confucius menyatakan :

Apa yang saya dengar, saya lupa.
Apa yang saya lihat, saya ingat.
Apa yang saya lakukan, saya paham.
Tiga pernyataan sederhana ini membicarakan bobot penting belajar aktif.

Mel Siberman telah memodifikasi dan memperluas pernyataan Confucius tersebut menjadi apa yang ia sebut paham Belajar aktif.

Apa yang saya dengar, saya lupa.
Apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat sedikit.
Apa yang saya dengar, lihat, dan tanyakan atau diskusikan dengan beberapa teman lain, saya mulai paham.
Apa yang saya dengar, lihat, diskusikan, dan lakukan, saya memperoleh pengetahuan dan keterampilan.
Apa yang saya ajarkan pada orang lain, saya kuasai.

Mengapa ia membuat pernyataan ini?

Terdapat beberapa alasan yang kebanyakan orang cenderung melupakan apa yan mereka dengar. Salah satu alasan yang paling menarik adalah perbedaan tingkat kecepatan bicara pengajar dengan tingkat kecepatan kemampuan siswa mendengarkan.
Kebanyakan guru berbicara kurang lebih 100-200 kata permenit.Namun berapa banyak kata yang dapat siswa dengar? Ini tergantung pada bagaimana mereka mendengarkan. Jika siswa betul-betul konsentrasi, barangkali mereka dapat mendengarkan antara 50-100 kata permenit, atau setengah hari yang dikatakan guru. Hal ini karena siswa sambil berpikir ketika mereka mendengarkan. Sulit dibandingkan dengan seorang guru yang banyak bicara. Barangkali para peserta didik tidak konsentrasi karena sangat sulit berkonsentrasi secara terus menerus dalam waktu lama, kecuali materi pelajaran menarik. Penelitian menunjukkan bahwa siswa mendengarkan (tanpa berpikir) rata-rata 400-500 kata permenit. Ketika mendengarkan secara terus menerus selama waktu tertentu pada seorang guru yang sedang bicara empat kali lebih lambat, siswa cenderung bosan, dan fikiran mereka akan melayang kemana-mana.
Sebenarnya, suatu penelitian menunjukkan bahwa siswa dalam ruang kuliah akademik tidak memperhatikan kurang lebih 40% dari waktu yang tersedia (Polio, 1984). Lebih lanjut, Siswa mencapai 70% pada sepuluh menit pertama kuliah, mereka hanya bertahan 20% pada sepuluh menit terakhir (McKeachie, 1986). Tidak mengherankan jika siswa dalam kuliah pengantar psikologi hanya 8% lebih dari kelompok pengontrol yang tidak pernah mengambil kuliah itu sama sekali (Richard et. al, 1988)
Bayang-kan apa hasil yang akan terjadi di kelas sekolah lanjutan menengah atau atas!
Dua tokoh terkenal dalam pergerakan kerjasama pendidikan, David Roger Johson bersama-sama dengan Kal Smith, Menunjukkan beberapa problem kuliah secara terus-menerus (johnson, Johnson & smith, 1991):

v Perhatian siswa berkurang bersamaan dengan berlalunya waktu.
v Ini hanya terjadi pada para siswa yang mengandalkan pendengaran
v Ini cenderung mengarah pada tingkat belajar lebih rendah dari informasi faktual
v Ini mengasumsikan bahwa semua siswa memerlukan informasi yang sama dan pada langkah yang sama.
v Siswa cenderung tidak menyukainya
dan menambahkan visual pada pelajaran menaikan ingatan dari 14% ke 38% (Pike, 1989). Penelitian ini juga menunjukkan perbaikan sampai 200% ketika kosa kata diajarkan dengan menggunakan alat visual! Bahkan, waktu yang diperlukan untuk menyampaikan konsep berkurang sampai 40% ketika visual digunakan unuk menambah presentasi verbal. Sebuah gambar barangkali tidak bernilai ribuan kata, namun tiga kali lebih efektif dari pada hanya kata-kata saja.
Manakala pengajaran menggunakan auditori dan visual, kesan menjadi lebih kuat dengan dua sistem penyampaian itu. Juga beberapa siswa, sebagaimana akan kita diskusikan nanti, lebih suka satu mode penyampaian dari mode-mode yang lain. Dengan menggunakan keduanya, Anda memiliki kesempatan lebih besar memenuhi kebutuhan, kebutuhan beberapa tipe siswa. Namun hanya mendengarkan sesuatu dan melihatnya tidaklah cukup untuk mengetahuinya.

Otak kita tidak berfungsi seperti kerja audio recorder atau video tape recorder. Begitu informasi masuk terus dipertanyakan. Otak kita mengemukakan pertanyaan-pertanyaan seperti :
Apakah saya telah mendengar atau melihat informasi ini sebelumnya?
Di mana informasi ini cocok? Apa yang dapat aku lakukan dengan ini ?
Dapatkah saya mengasumsikan bahwa ini sama dengan gagasan yang telah saya dengar kemarin bulan yang lalu atau tahun yang lalu?

Otak tidak hanya menerima informasi juga memprosesnya. Untuk memproses informasi secara efektif, Otak membantu melaksanakan refleksi baik secara eksternal maupun internal. Jika kita mendiskusikan informasi dengan orang lain, dan jika kita diminta untuk mempertanyakannya, Otak kita dapat melakukan tugas belajar lebih baik. Sebagai contoh, Ruhl, Hughes, dan Scholss (1987) menghendaki siswa mendiskusikan dengan partner tentang apa yang guru presentasikan pada interval tertentu selama belajar. Bandingkan dengan siswa pada kelas kontrol yang tidak ada pemberhentian untuk diskusi, siswa-siswa ini memperoleh nilai dua tingkat lebih baik
Baik juga, jika kita dapat melakukan sesuatu dengan informasi, kita memperoleh umpan balik tentang seberapa baik kita mengetahui. Menurut John Holt (1967), belajar semakin baik jika siswa diminta untuk melakukan hal-hal berikut :

1. Mengungkapkan informasi dengan bahasa mereka sendiri
2. Memberikan contoh-contoh.
3. Mengenalnya dalam berbagai samaran dan kondisi.
4. Melihat hubungan antara satu fakta atau gagasan dengan yang lain
5. Menggunakannya dengan berbagai cara.
6. Memperkirakan beberapa konsekuensinya.
7. Mengungkapkan lawan atau kebalikannya.
Dalam banyak cara, otak seperti komputer dan kita sebagai penggunanya, sebuah komputer, tentu saja, perlu “dihidupkan” agar supaya dapat bekerja. Otak kita perlu “dihidupkan” juga. Ketika belajar secara pasif, Otak kita tidak “hidup” . Sebuah komputer memerlukan software yang tepat untuk menafsirkan data-data yang dimasukkan. Otak kita perlu dihubungkan dengan apa yang diajarkan pada kita dengan apa yang telah kita ketahui dan bagaimana kita berpikir. Ketika belajar secara pasif, otak kita tidak melakukan hubungan ini pada software. Akhirnya, Sebuah komputer tidak dapat menyimpan informasi yang telah diproses tanpa “menyimpannya” . Otak kita perlu mempertanyakan informasi, merumuskan atau menjelaskannya pada orang lain agar dapat menympannya dalam memori. Ketika belajar secara pasif, otak tidak menyimpan apa yang telah dipresentasikan.
Apa yang terjadi ketika guru menumpahkan pada peserta didik dengan pikiran mereka sendiri (walaupun penuh perhitungan dan diorganisasi dengan baik) atau ketika mereka terlalu sering “biarkan saya tunjukkan padamu bagaimana” demonstrasi dan penjelasan? Mencurahkan fakta dan konsep pada kepala peserta didik dan menguasai penampilan keterampilan dan prosedur yang sebenarnya adalah terkait dengan belajar. Presentasi barangkali dapat membuat kesan langsung pada otak, namun, tanpa memori fotografik, Peserta didik tidak dapat mengingat terlalu banyak untuk jangka waktu tertentu.
Tentu saja, belajar sesungguhnya bukanlah dengan cara menghafal. Kebanyakan dari yang kita hafal hilang dalam beberapa hal. Belajar tidak dapat ditelan secara keseluruhan. Untuk mengingat apa yang telah diajarkan, peserta didik harus mencernanya. Seorang pengajar tidak dapat menjadikan kerja mental peserta didik karena mereka harus secara bersama-sama apa yang mereka dengar dan lihat ke kesatuan makna. Belajar yang sesungguhnya tidak akan terjadi, tanpa ada kesempatan untuk berdiskusi, membuat pertanyaan, mempraktekkan bahkan mengajarkan pada orang lain.
Lebih jauh belajar bukanlah merupakan satu peristiwa pendek. Belajar terjadi secara bergelombang. Ini memerlukan beberapa ekspose materi untuk mencernanya dan memahaminya. Ini juga memerlukan jenis-jenis ekspose yang berbeda-beda, bukan sekedar pengulangan input. Sebagai contoh, Matematika dapat diajarkan dengan alat konkrit melalui buku latihan, dan dengan aktivitas praktis harian. Setiap cara presentasi konsep membentuk pemahaman peserta didik. Lebih penting lagi adalah cara bagaimana ekspose itu terjadi. Jika hal ini terjadi pada peserta didik, maka akan terdapat tantangan mental bagi mereka. Ketika belajar secara pasif, peserta didik mengalami proses tanpa rasa ingin tahu, tanpa pertanyaan, dan tanpa daya tarik pada hasil (kecuali, barangkali, sekedar sertifikat yang dia akan terima). Ketika belajar secara aktif, pelajar mencari sesuatu. Dia ingin menjawab pertanyaan, memerlukan informasi untuk menyelesaikan masalah, atau menyelidiki cara untuk melakukan pekerjaan.
Model-Model
Belajar Pendidik hendaknya menyadari bahwa peserta didik memiliki berbagai cara belajar. Beberapa peserta didik paling baik belajar dengan cara melihat orang lain melakukannya. Biasanya, mereka secara hati-hati mengurutkan presentasi informasi. Mereka lebih senang mencatat apa yang pengajar katakan. Selama pelajaran, mereka biasanya tenang dan jarang terganggu oleh suara. Peserta didik yang bersifat visual adalah kebalikan dari peserta didik bersifat auditory, yang seringkali tidak terganggu melihat apa yang pengajar lakukan, atau membuat catatan. Mereka betul-betul ada pada kemampuannya untuk mendengar dan mengingat. Selama pelajaran, mereka mungkin aktif bercakap-cakap dan dengan mudah terganggu oleh suara. Peserta didik yang
bersifat kinesthetic adalah mengutamakan belajar dengan terlibat secara langsung dalam aktivitas. Mereka cenderung pada gerak hati, dengan sedikit sabar. Selama pelajaran berlangsung, mereka mungkin gelisah kecuali jika mereka dapat bergerak dan melakukannya. Pendekatan mereka untuk belajar dapat terjadi secara acak dan random.
Tentu saja, beberapa siswa termasuk pada sau jenis pelajar tersebut. Grinder (1991) mencatat bahwa pada setiap group dari 30 siswa, rata-rata 22 dapat belajar secara efektif selama pengajar menyediakan visual, auditory, dan aktifitas kinesthetic.Delapan (8) peserta didik sisanya lebih suka pada sebuah model ketimbang dua model lain sehingga mereka berusaha untuk mengetahui pelajaran kecuali jika perhatian khusus diarahkan pada presentasi dengan modelnya yang paling mereka senangi. Agar dapat memenuhi kebutuhan ini, pengajaran hendaknya dilakukan dengan multi sensori dan diisi dengan berbagai variasi.
Pengajar juga harus memperhatikan perubahan-perubahan pada gaya belajar peserta didik. Selama 15 tahun yang lalu, Schroeder dan koleganya (1993) telah memberikan tipe indikator Myers-Briggs (MBTI) pada siswa akademi. (MBTI) salah satu alat yang paling luas digunakan dalam pendidikan dan bisnis saat ini. Ini terutama berguna untuk mengetahui peran individu yang berbeda-beda dalam proses belajar. Hasilnya menunjukkan bahwa kurang lebih 60% siswa mempunyai orientasi belajar pratektis bukan teoritis, dan prosentasenya meningkat dari tahun ke tahun. Peserta didik lebih suka terlibat secara langsung, pengalaman konkrit dari pada konsep dasar lebih dahulu dan menerapkannya kemudian. Penelitian MBTI lain, Schroeder, menunjukkan bahwa para peserta didik sekoleh lanjutan atas lebih suka belajar aktifitas yaitu aktifitas kongkrit bukan aktifitas yang berupa refleksi abstrak dengan perbandingan 5 : 1. Dari ini semua, dia menyimpulkan bahwa mode mengajar dan belajar aktif menciptakan gabungan yang paling bagus untuk peserta didik sekarang. Agar efektif, pendidik hendaknya menggunakan hal-hal berikut: diskusi kelompok kecil dan proyek (penelitian), presentase kelas dan berdebat, latihan pengalaman, pengalaman lapangan, simulasi, dan studi kasus. Secara khusus, Schroeder menekankan, peserta didik sekarang “sangat pandai menyesuaikan dengan aktifitas kelompok dan belajar secara bersama-sama.”
Temuan-temuan ini tidak mengejutkan jika dipikirkan langkah aktif dari kehidupan modern. Peserta didik sekarang hidup di dunia dimana hal-hal terjadi secara cepat dan banyak pilihan dihadirkan. Suara-suara menggigit dan berbagai warna merupakan getaran dan memotivasi. Objek-objek, baik yang riil maupun virtual, lebih cepat. Kesempatan untuk mengubah sesuatu dari satu keadaan pada keadaan yang lain terjadi dimanapun.
Karena peserta didik sekarang menghadapi dunia dengan ledakan pengetahuan, perubahan cepat dan serba tidak menentu, mereka menjadi was-was dan defensif . Abraham Maslow mengajar kita bahwa manusia memiliki dua perangkat kekuatan atau keperluan yang satu berusaha untuk tumbuh dan yang lain melekat pada keselamatan




keselamatan. Seseorang yang harus memilih antara dua pilihan ini akan memilih keselamatan bukan pertumbuhan. Keperluan akan merasa aman harus terpenuhi sebelum pemenuhan kebutuhan pertumbuhan, mengambil resiko dan eksplorasi baru dapat dilakukan. Pertumbuhan terjadi pada langkah-langkah kecil, menurut Maslow dan ”setiap langkah ke depan menjadi mungkin melalui rasa aman, menerapkannya pada sesuatu yang tidak diketahui dari tempat ysng selamat (Maslow, 1969).
Salah satu cara kunci untuk mencapai rasa aman dan selamat dikaitkan dengan orang-orang lain dan merasa satu kelompok. Rasa dalam satu kelompok ini memungkinkan peserta didik menghadapi perubahan-perubahan dihadapannya. Ketika mereka belajar lebih senang dengan yang lain dari pada sendirian, mereka memiliki dorongan emosional dan intelektual yang memungkinkan mereka melampaui tingkat pengetahuan dan keterampilan mereka sekarang. Jerome Bruner mengenalkan sisi sosial dari belajar dlam buku klasiknya yang berjudul Toward a Theory of Instruction. Ia mendeskripsikan ”suatu kebutuhan manusia yang dalam untuk merespon yang lain dan secara bersama-sama dengan mereka terlibat dalam mencapai tujuan”, yang ia sebut reciprocity. Brune menekankan bahwa reciprocity merupakan sumber motivasi yang setiap pengajar dapat mengalirkan stimulasi untuk belajar. Dia menulis : “Dimana keterlibatan diperlukan, reciprocity diperlukan bagi kelompok untuk mencapai tujuan, kemudian terdapat proses yang menyebabkan individu terlibat dalam belajar, mengantarkannya pada kemampuan yang diperlukan dalam menyusun kelompok “(Bruner, 1986)”. Konsep Maslow dan Bruner ini menggarisbawahi perkembangan metode belajar kolaboratif menjadi populer di lingkungan pendidikan sekarang. Dengan menempatkan peserta didik dalam kelompok dan memberinya tugas dmana mereka saling tergantung satu dengan yang lain untuk menyelesaikan pekerjaan adalah cara yang mengagumkan untuk memberi kemampuan pada keperluan siswa dalam masyarakat. Mereka condong menjadi lebih menarik dalam belajar karena mereka melakukannya dengan teman-teman sekelas mereka. Sekali terlibat, mereka juga memiliki keperluan untuk bercakap-cakap mengenal apa yang mereka alami dengan yang lain, yang mengarahkan pada hubungan selanjutnya.
Aktifitas belajar kolaboratif membantu mengarahkan belajar aktif. Meskipun belajar independen dan kelas penuh instruksi juga mendorog belajar aktif, kemampuan untuk mengaar melalui aktifitas kerja kolaboratif dalam kelompok kecil akan memungkinkan anda untuk mempromosikan belajar aktif dengan cara khusus. Apa yang peserta didik diskusikan dengan yang lain dan apa yang peserta didik ajarkan pada yang lain menyebabkan dia memperoleh pemahaman dan menguasai cara belajar. Metode belajar kolaboratif yang paling bagus yang memenuhi persyaratan ini, disebut juga pelajaran jigsaw. Dengan memberi tugas yang berbeda-beda kepada peserta didik yang bervariasi akan mempercepat mereka bukan hanya belajar bersama tetapi juga saling mengajar satu dengan yang lain.
Disamping argumen-argumen yang telah dikemukakan untuk mendukung belajar aktif, banyak pengajar masih mengkhawatirkan tentang hal ini. Jika anda ikut terlibat dalam kepedulian mereka, saya harap respon saya dapat membantu.
· Apakah belajar aktif hanya sekelompok “kegembiraan” dan “permainan”?
Bukan, ini bukan sekedar kegembiraan, meskipun belajar dapat berupa kegembiraan dan masih berfaedah. Sebenarnya, banyak teknik belajar aktif menghadapkan peserta didik pada tantangan-tantangan yang tidak biasa yang mengharuskan kerja keras.
· Apakah belajar aktif terlalu memfokuskan pada aktifitas untuk aktifitasnya itu sendiri dimana peserta didik tidak merefleksikan tentang apa yang mereka pelajari ?
Satu kapedulian nyata. Kebanyaka nilai dari belajar aktif berasal dari berpikir tentang aktifitas ketika mereka melakukan dan mendiskusikan maknanya dengan yang lain-lain. Jangan terlalu berlebihan pada fakta ini. Belajar aktif memiliki berbagai saran untuk membantu siswa merefleksikan apa yang telah mereka alami.
Ini seringkali bermanfaat untuk menyampaikan pelajaran singkat setelah aktifitas belajar aktif untuk menghubungkan apa yang peserta didik telah alami dengan konsep yang anda inginkan untuk memperoleh penyilangan.
· Bukanlah belajar aktif memerlukan waktu banyak? Bagaimana anda dapat menyampaikan materi pelajaran dengan menggunakan metode-metode belajar aktif?
Tidak masalah bahwa belajar aktif memerlukan waktu lebih dari pada mengajar langsung, tetapi terdapat banyak cara untuk menghindari pebuangan waktu. Lebih jauh, meskipun kuliah dapat mencakup latar belakang, seseorang harus mempertanyakan berapa banyak peserta didik yang betul-betul belajar. Para pengajar memilki kecenderungan untuk mencakup permukaan dengan melemparkan semua yang mungkin tentang pelajaran yang diberikan. Setelah itu, mereka beralasan, anda cukup memperoleh satu bagian dari aktifitas para peserta didk ini, sehingga anda lebih tepat merangkum semuanya. Ruang kelas dimana belajar secara aktif memiliki kurikulum dan tujuan terbatas. Para pengajar yang membingbing kelas ini menyadari bahwa para peserta didik akan lebih banyak lupa dari pada yang mereka ingat. Manakala tingkat kesulitan isi sedang (moderat), pengajar memiliki waktu untuk menyediakan aktifitas yang memperkenalkan, mempresentasikan, menerapkan dan merefleksikan pada apa yang sedang dipelajari.
· Dapatkah metode-metode belajar aktif menyebabkan bosan, dan informasi tidak menarik?
Tentu saja! Mata pelajaran yang menarik mudah diajarkan. Ketika pelajaran membosankan, seringkali hanya dengan metode-metode belajar aktif yang menyenangkan dapat memenuhi siswa dan memotivasi mereka untuk menguasainya, sekalipun materi membosankan
· Ketika anda menggunakan kelompok dalam belajar aktif, bagaimana anda mencegah kelompok-kelompok itu dari memubadzirkan waktu dan tidak produktif?
Kelompok-kelompok bisa produktif ketika hanya ada sedikit tim pembentuk (team building) pada permulaan belajar dan ketika kelompok kerja tidak disusun secara seksama dari luar. Para Peserta didik menjadi bingung apa yang harus dilakukan, sangat lemah mengorganisir diri mereka sendiri, sekedar pada permukaan tidak menukik pada materi. Terdapat beberapa cara untuk mengajar peserta didik bagaimana belajar secara kelompok, seperti menugaskan peran kepada para anggota kelompok, menetapkan aturan-aturan dasar kelompok, keterampilan praktis kelompok dan seterusnya. Banyak petunjuk dan teknis dalam belajar aktif digunakan dalam problem ini.
· Dapatkah belajar aktif mematikan kelompok peserta didik?
Ya, hal itu dapat terjadi.Beberapa pengajar pernah menggunakan kelompok-kelompok secara berlebihan. Pengajar tidak memberikan kesempatan yang cukup pada peserta didik untuk mempelajari sesuatu secara individual, dan pengajar itu tidak melibatkan seluruh kelas untu belajar dan diskusi. Kuncinya bermacam-macam. Variasi dari model belajar merupakan bentuk mengajar yang bagus. Beberapa teknik dalam belajar aktif akan memberi anda alternatif pada belajar kelompok kecil.
· Adakah bahaya ketika peserta didik yang saling salah informasi dalam berbagai teknik?
Saya duga ada sedikit bahaya, Namun keuntungan dari memberikan belajar sisi sosial jauh lebih berharga. Bagaimanpun, pengajar akan selalu dapat mereview materi dengan keseluruhan kelas setelah peserta didik berusaha sacara aktif untuk mempelajarinya dengan cara mereka sendiri dan mengajarkannya kepada peserta didik lainnya.
· Saya terbuai oleh belajar aktif, namun saya khawatir jika para peserta didik saya juga begitu?
Semakin mereka kurang terbiasa belajar aktif, semakin sulit mereka menerapkannya. Mereka barangkali biasa mengamat-amati pengajar melakukan semua pekerjaan, mereka duduk dibelakang dan yakin bahwa mereka telah belajar sesuatu dan akan mengingatnya. Beberapa peserta didik akan mengeluh bahwa belajar aktif hanya memubadzirkan waktu. Mereka barangkali terorganisir secara baik, penyampaian informasi secara efisien, atau mereka ingin tahu tentang belajar dengan penemuan dan eksplorasi sendiri. Dalam jangka panjang, mereka akan beruntung dari belajar aktif seperti orang lain. Dalam jangka pendek, mereka kurang rasa keingintahuannya, jika anda memperkenalkan belajar aktif secara bertahap. Sebaliknya, anda akan mendapatkan penolakan yang berarti.
· Apakah belajar aktif memerlukan persiapan dan kreatifitas yang lebih untuk mengajar kita dengan metode-metode belajar aktif?
Ya dan Tidak. Pernah anda terbuai olehnya persiapan dan kreatifitas ekstra tidak akan dirasakan sebagai beban. Anda akan merasakan senang pada pengajaran anda, dan enersi ini akan berpindah pada belajar peserta didik anda. Sampai nanti, anda akn mendapatkan gagasan kreatif untuk belajar aktif sesuatu yang menantang. Pada mulanya anda akan berpikir bahwa bagaimana di dunia ini anda dapat mengajar topik-topik tertentu dengan aktif! Ini, tentu saja, belajar aktif ada. Ini cenderung memudahkan pemindahan dengan menyediakan anda beberapa cara kongkrit untuk membangun aktifitas, variasi dan partisipasi ke dalam kelas anda. Begitu anda membaca setiap teknik, saran-saran tersedia tentang bagaimana menerapkan dalam pelajaran anda. Saya yakin teknik-teknik ini sangat berguna untuk memperkuat semua pelajaran anda. Begitu anda menerapkan setiap teknik akan terhindarkan pembaca pasif. Identifikasi sebuah topik yang akan anda ajarkan atau untuk antisipasi pengajaran yang akan datang, dan ingat-ingatlah seperti yang anda baca. Dengan memelihara seperangkat problem solving bukan informasi yang diterima seseorang, anda akan menjadi seorang pembaca yang aktif dan pada cara anda menjadi seorang pengajar yang aktif.

Inti dan
Kerangka
Belajar Aktif Sebelum membaca 101 strategi belajar aktif yang didiskripsikan dalam buku ini, barangkali anda medapatkannya berguna untuk mempertimbangkan apa yang saya sebut inti dan penekanan dari belajar aktif. Saya telah mengembangkan beberapa petunjuk singat untuk megorgansasi dan memfasilitasi belajar aktif demi membantu pengajar mengidentifikasi, secara sekilas, beberapa pilihan yang memungkinkan mereka pada titik yang berbeda-beda dalam rangkaian pelaksanaan belajar aktif.
Banyak diantara gagasan-gagasan ini sangat terkenal, dan barangkali anda telah meggunakan beberapa diantaranya. Namun saya berharap bahwa dengan daftar yang terorganisir ini akan menyebabkan pekerjaan anda untuk memfasilitasi belajar aktif menjadi lebih mudah. Anggaplah daftar ini sebagai menu pengajaran yang darinya anda dapat memilih pilihan yang anda perlukan pada waktu yang tersedia untuk menjadikan belajar aktif.

10
Ancangan Tata Ruang Kelas Lingkungan fisik dalam ruang kelas dapat menjadikan belajar aktif. Tak satupun susunan ideal, Namun terdapat beberapa pilihan yang dapat dipilih. Dekorasi interior dari belajar aktif adalah menyenagkan dan menantang (khususnya jika meueler kurang ideal). Dalam beberapa hal, meubeler dapat dengan mudah diatur untuk membentuk susunan yang berbeda-beda meskipun meja kursi tradisional dapat dikelompokkan bersama-sama untuk membentuk susunan bujursangkar atau yang lainnya. Jika anda memilih untuk melakukan begitu, suruhlah peserta didik membantu memindahkan meja dan kursi. Itu menjadikan mereka “aktif” juga.

Kebanyakan layout yang didiskripikan disini tidak dimaksudkan menjadi susunan yang permanen. Jika meubeler anda dapat dengan mudah dipindh-pindah, sangat mungkin, menggunakan beberapa lay out ini sesuai yang anda inginkan. Anda juga akan mendapatkan saran-saran tentang bagaimana menggunakan sekalipun lingkungan ruang kelas yang paling tradisional untuk belajar aktif.

1. Huruf U
Ini merupakan susunan untuk berbagai tujuan. Para peserta didik memiliki permukaan untuk menulis dan membaca, para peserta didik dapat melihat anda dan atau melihat media visual dengan mudah dan mereka dapat saling berhadapan langsung satu dengan yang lain. Ini juga mudah untuk memasangkan mereka, terutama ketika terdapat dua tempat duduk setiap meja. Susunan ini ideal untuk membagi bahan pelajaran kepada peserta didik secara cepat karena anda dapat masuk ke huruf U dan berjalan ke bebagai arah dengan seperangkat materi.
Anda dapat menyusun meja dan kursi dalam huruf U ;

Sediakan ruangan yang cukup antara satu tempat duduk dengan yang lain sehingga kelompok kecil yang terdiri dari tiga peserta didik atau lebih dapat keluar masuk dari tempatnya dengan mudah.
Anda dapat menyusun meja dan kursi seperti meja oblong dalam huruf U yan kelihatan seperti setengah lingkaran.

2. Corak Tim :
Mengelompokkan meja-meja setengah lingkaran atau oblong di ruang kelas agar memungkinkan anda untuk melakukan intraksi tim. Anda dapat meletakkan kursi-kursi mengelilingi meja-meja untuk susunan yang paling akrab. Jika anda melakukan, beberapa peserta didik harus memutar kursi mereka melingkar menghadap ke depan ruang kelas untuk melihat anda, papan tulis atau layar.

Atau anda dapat meletakkan kursi-kursi setengah lingkaran sehingga tidak ada siswa yang membelakangi papan tulis.

3. Meja konferensi :
Ini terbaik jika meja relatif persegi panjang. Susunan ini mengurangi pentingnya pengajar dan menambahkan pentingnya peserta didik. Susunan ini dapat membentuk perasaan formal jika pengajar ada pada ujung meja.

Jika pengajar duduk di tengah-tengah sisi yang luas, para peserta didik di ujung merasa tertutup.

Anda dapat membentuk sebuah susunan meja konferensi dengan menggabungkan beberapa meja kecil (ditengahnya biasanya kosong)

4. Lingkaran :
Para peserta didik hanya duduk pada sebuah lingkaran tanpa meja atau kursi untuk interaksi berhadap-hadapan secara langsung. Sebuah lingkaran ideal untuk diskusi kelompok penuh. Sediakan ruangan yang cukup, sehingga anda dapat menyuruh peserta didik menyusun kursi-kursi mereka secara cepat dalam berbagai susunan kelompok kecil.

Jika anda menginginkan peserta didik memiliki tempat untuk menulis, gunakan susunan peripheral. Suruhlah mereka memutar kursi-kursinya melingkar ketika anda menginginkan diskusi kelompok.

5. Kelompok untuk kelompok :
Susunan ini memungkinkan anda melakukan diskusi fishbowl (mangkok ikan) atau untuk menyusun permainan peran, berdebat atau observasi aktifitas kelompok. Susunan yang paling khusus terdiri dari dua konsentrasi lingkaran kursi. Atau anda dapat meletakkan meja pertemuan di tengah-tengah, dikelilingi oleh kursi-kursi pada sisi luar.


6. Workstation :
Susunan ini tepat untuk lingkungan tipe laboratorium, aktif dimana setiap peserta didik duduk pada tempat untuk mengerjakan tugas (seperti mengoperasikan komputer, mesin, melakukan kerja laborat) tepat setelah didemonstasikan. Tempat berhadapan mendorong patner belajar untuk menempatkan dua peserta didik pada tempat yang sama.







7. Breakout groupings :
Jika kelas anda cukup besar atau jika ruangan memungkinkan, letakkan meja-meja dan kursi dimana kelompok kecil dapat melakukan aktifitas belajar didasarkan atas tim. Tempatkan susunan pecahan-pecahan kelompok saling berjauhan sehingga tim-tim itu tidak saling mengganggu. Tetapi hindarkan penempatan ruangan kelompok-kelompok kecil terlalu jauh dari ruang kelas sehingga hubungan diantara mereka sulit dijaga.

8. Susunan Chevron :
Sebuah susunan ruang kelas tradisional tidak melakukan belajar aktif. Jika terdapat banyak peserta didik (tiga puluh atau lebih) dan hanya tersedia meja oblong, barangkali perlu menyusun peserta didik dalam bentuk ruang kelas. Susunan V mengurangi jarak antara peserta didik, pandangan lebih baik dan lebih memungkinkan untuk melihat peserta didik lain dari pada baris lurus. Dalam susunan ini, tempat paling bagus ada pada pusat tanpa jalan tengah.
9. Kelas tradisional :
Jika tdak ada cara untuk membuat lingkaran dari baris lurus yang berupa meja dan kursi, Cobalah mengelompokkan kursi-kursi dalam pasangan-pasangan untuk memungkinkan penggunaan teman belajar. Cobalah membuat nomor genap dari baris-baris dan ruangan yang cukup diantara mereka sehingga pasangan-pasangan peserta didik pada baris-baris nomor ganjil dapat memutar kursi-kursi mereka melingkar dan membuat persegi panjang dengan pasangan tempat duduk persis di belakang mereka pada baris berikutnya.

10. Auditorium :
Meskipun auditorium menyediakan lingkungan yang sangat terbatas untuk belajar aktif, namun masih ada harapan. Jika tempat duduk-tempat duduk itu dapat dengan mudah dipindah-pindah, tempatkan mereka dalam sebuah arc (bagian lingkaran) untuk membentuk hubungan lebih erat dan visibilitas peserta didik.

10
Metode untuk
Memperoleh
Partisipasi Siswa
Setiap SaatJika tempat-tempat duduk itu cocok, suruhlah peserta didik agar duduk sedekat mungkin ke pusat. Berlaku asertif terhadap bentuk ini; sekalipun dianggap barisan lepas dari sisi audotorium. Ingatlah : tidak masalah seberapa besar auditorium dan seberapa banyak audien, anda masih dapat memasangkan mereka dan menggunakan aktifitas-aktifitas belajar aktif yang melibatkan pasangan-pasangan.
Belajar aktif tidak dapat terjadi tanpa partisipasi peserta didik. Terdapat berbagai cara untuk menyusun diskusi dan memperoleh respon dari para peserta didik pada setiap saat selama pelajaran. Beberapa diantaranya sangat tepat ketika waktu terbatas atau keperluan-keperluan partisipasi sangat dibutuhkan. Anda juga dapat mempertimbangkan gabungan dari metode-metode ini – sebagai contoh, menggunakan diskusi kecil dan kemudian mengundang pembicara dari setiap kelompok berperan pada sebuah panel.

1. Diskusi terbuka :
Memita sebuah pertanyaan dan membukanya pada kelompok besar tanpa harus berstruktur lebih lanjut. Kualitas diskusi terbuka secara terus-menerus akan terjadi. Jika anda khawatir bahwa diskusi akan berjalan terlalu lama katakan sebelumnya, “saya lebih suka meminta empat atau lima siswa untuk ambil bagian …. “. Untuk mendorong siswa untuk mengangkat tangan mereka, mintalah, “berapa banyak diantaramu yang merespon terhadap pertanyaan saya?” kemudian panggillah peserta didik untuk mengangkat tangan mereka.
2. Kartu-kartu respon :
Bagikan kartu-kartu indeks dan mintalah jawaban-jawaban tanpa nama terhadap pertanyaan anda. Edarkan kartu-kartu indeks ke seluruh kelompok atau yang lainnya membagikannya. Gunakan kartu respon untuk menghemat waktu atau untuk menghilangkan nama orang dengan penyingkatan diri. Perlunya mengungkapkan jawaban anda secara ringkas pada sebuah kartu merupakan keuntungan lain.

3. Polling :
Susunlah suatu survei pendek dengan mengisi dan mendapatkan perhitungan, atau poll peserta didik secara verbal. Gunakan polling untuk mendapatkan data secara cepat dan kembalikan hasilnya kepada mereka secepat mungkin. Jika anda menggunakan survei verbal, mintalah menunjukkan tangan atau meminta siswa untuk mengangkat kartu jawaban.
4. Diskusi kelompok kecil :
Bagilah peserta didik ke dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari tiga peserta atau lebih untuk berbagi informasi. Gunakan diskusi kelompok kecil jika anda memiliki cukup waktu untuk memproses persoalan dan masalah. Ini merupakan salah satu metode kunci untuk mendapatkan partisipasi seseorang.
5. Partner belajar :
Suruhlah peserta didik mengerjakan tugas atau berdiskusi dengan pertanyaan kunci bersama siswa yang duduk didekatnya. Gunakan partner belajar ketika anda ingin melibatkan setiap peserta tetapi tidak memiliki cukup waktu untuk diskusi kelompok kecil. Pasangan merupakan konfigurasi kelompok yang baik untuk mengembangkan sebuah hubungan suportif dan atau untuk mengerjakan aktifitas-aktifitas kompleks yang tidak akan membiarkan mereka pada konfigurasi kelompok besar.
6. Whips :
Kelilingi kelompok dan dapatkan respon pendek pada persalan kunci. Gunakan whips ketika anda ingin memperoleh sesuatu dari setiap peserta secara cepat. Kalimat membentuk (contoh: “satu perubahan yang akan saya buat di Amerika Serikat adalah .. “) adalah sangat berguna dalam melakukan whips. Ajaklah peserta didik “untuk lewat” kapan saja mereka mau. Hindarkanlah perulangan, suruhlah setiap peserta untuk konstribusi baru pada proses itu.
7. Panel :
Mintalah sekelompok kecil peserta didik untuk mempresentasikan pandangan mereka di depan kelas. Sebuah panel informal dapat dilakukan dengan meminta pandangan-pandangan dari sejumlah peserta yang ada pada tempat duduk mereka. Gunakan panel ketika waktu memungkinkan untuk memfokuskan respon yang serius terhadap pertanyaan anda. Putarlah panelis untuk meningkatkan partisipasi.
8. Fishbowl :
Suruhlah sebagian peserta didik untuk membentuk lingkaran diskusi, dan suruhlah peserta sisanya membentuk lingkaran pendengar mengelilingi mereka. Bawalah kelompok baru ke dalam lingkaran untuk melanjutkan diskusi. Gunakan fishbowl untuk membantu memfokuskan pada diskusi kelompok besar. Meskipun banyak menggunakan waktu, ini adalah metode terbaik untuk menggabungkan berbagai kebaikan dari diskusi kelompok besar dengan kelompok kecil. Sebagai variasi pada lingkaran konsentrasi, suruhlah peserta yang masih duduk ditempatnya dan suruhlah meja-meja yang berbeda atau bagian-bagian dari meja menjadi diskusan sedang yang lain mendengarkan.
9. Game :
Gunakan latihan lucu atau permainan kuis untuk mendapatkan ide-ide, pengetahuan, atau keterampilan siswa. TV games sebagaimana ditunjukkan family Feud atau Jeopardy dapat digunakan sebagai dasar dari permainan yang memperoleh partisipasi. Gunakan permainan untuk membangkitkan energi dan keterlibatan. Permainan juga sangat berguna untuk membentuk poin-poin dramatis yang jarang peserta lupakan.
10. Memanggil Pembicara Berikutnya :
Suruhlah peserta didik mengangkat tangan ketika mereka ingin menyampaikan pandangan mereka, dan meminta pembicara sekarang memanggil pembicara berikutnya (sebagai pengganti peran pengajar). Gunakan teknik ini ketika anda yakin terdapat banyak perhatian dalam diskusi atau aktifitas dan anda ingin meningkatkan interaksi peserta didik.
10
Tugas untuk
Memberi Patner
BelajarMeskipun kita baru saja melihat sepuluh cara untuk mendapatkan partisipasi peserta didik, penggunaan partner belajar layak mendapat perhatian khusus. Satu cara yang paling efektif dan efisien untuk meningkatkan belajar aktif adalah dengan membagi peserta berpasang-pasangan dan menyusun partner belajar. Sungguh sulit untuk terlewatkan
dalam berpasangan. Juga sulit bersembunyi dalam partner. Belajar dengan partner dapat dalam waktu pendek atau panjang. Belajar dengan partner dapat melakukan berbagai tugas secara cepat atau tugas yang memerlukan waktu lebih lama, seperti dalam daftar berikut :
1. Mendiskusikan sebuah dokumen pendek bersama-sama.
2. Saling menginterview satu dengan yang lain mengenai reaksi partner terhadap bacaan kuliah, video yang ditugaskan atau aktifitas pendidikan yang lain
3. Mengkritik atau mengedit pekerjaan tertulis antara teman satu dengan yang lain.
4. Mempertanyakan partner anda tentang tugas membaca.
5. Merangkum pelajaran atau sesi pelajaran bersama-sama.
6. Mengembangkan pertanyaan-pertanyaan bersama-sama pada pengajar.
7. Menganalisis problem kasus, latihan atau percobaan bersama-sama.
8. Saling menguji satu dengan yang lain.
9. Merespon pertanyaan yang diberikan oleh pengajar.
10. Membandingkan catatan-catatan yang dilakukan di kelas.

10
Pertanyaan
untuk
Memperoleh
Harapan-
Harapan Peserta
Didik
Lingkungan belajar aktif adalah tempat dimana kebutuhan, harapan dan perhatian peserta didik mempengaruhi rencana pembelajaran mengajar. Anda dapat mengajukan berbagai pertanyaan yang anda tanyakan untuk memperoleh tujuan-tujuan peserta didik. Beberapa diantaranya barangkali cocok untuk situsi anda.Anda dapat memperoleh jawaban-jawban melalui sepuluh metode untuk memperoleh yang telah dideskripikan lebih dahulu.

1. Pertanyaan-pertayaan mengenai pelajaran apa yang anda bawa ke kelas?
2. Informasin atau keterampilan apa yang anda inginkan dari pelajaran ini?
3. Informasi atau keterampilah apa yang tidak anda butuhkan atau tidak anda perlukan?
4. Apa yang akan anda dapatkan dari pelajaran ini?Sebutkan
5. Harapa-harapan anda apa dari kelas ini?Apa minat anda?
6. Apakah tujuan pelajarn memenuhi kebutuhan anda?
7. Pengetahuan atau keterampilan apa yang anda rasakan anda butuhkan?Yang mana yang baik yang anda inginkan?
8. Apa harapan-harapan anda mengenai pelajaran ini?
9. kenapa anda memilih pelajaran ini (jika pelajaran pilihan)?
Kenapa anda datang?
10. Apa yang telah anda dapatkan dari pelajaran yang lalu mengenai topik ini?
10
Saran untuk
Memperbaiki
Ceramah

Ceramah adalah sebuah metode mengajar yang paling disukai, tetapi apakah ini memiliki tempat pada lingkungan belajar aktif? Digunakan terlalu sering, ceramah tidak akan pernah mengarah ke belajar, tetapi berkali-kali ketika ini dapat dilakukan secara efektif. Karena itu, pengajar hendaknya membangun daya tarik dulu, memaksimalkan pengertian dan ingatan, melibatkan peserta didik selama ceramah, dan memberi penguatan apa yang telah disajikan. Inilah beberapa pilihan untuk melakukan hal itu.

Membangun Minat
1. Kemukakan ceritera atau visual yang menarik :Sajikan anekdot, cerita fiksi, kartun atau grafik yang relevan yang dapat memenuhi perhatian peserta didik terhadap apa yang anda kerjakan.
2. Buatlah kasus problem : kemukakan suatu prolem dtisekitar ceramah yang akan disusun.
3. Test pertanyaan : berilah peserta didik sebuah pertanyaan (apakah mereka telah memilki sedikit pengetahuan sebelumnya) sehingga mereka akan termotivasi untuk mendengarkan ceramah anda untuk menjawabnya.

Memaksimalkan Pemahaman dan Ingatan
4. Headlines : beri poin-poin utama dari ceramah pada kata-kata kunci yang berfungsi sebagai sub-hiding verbal atau alat bantu ingatan.
5. Contoh dan Analogi : kemukakan ilustrasi kehidupan nyata mengenai gagasan dalam ceramah dan, jika mungkin, buatkan perbandingan antara materi anda dan pengetahuan dengan pengalaman yang telah peserta didik alami.
6. Alat bantu visual : gunakan flip chart, transparansi, hand-out singkat dan demonstrasi yang membantu siswa melihat dan mendengarkan apa yang anda katakan.

Melibatkan Peserta didik Selama Ceramah
7. Tantangan Spot : Hentikan ceramah secara periodik dan tantanglah (mintalah) peserta didik untuk memberi contoh dari konsep yang disajikan untuk menjawab pertanyaan kuis spot.
8. Latihan-latihan yang memperjelas : seluruh penyajian, selingi aktifitas-aktifitas singkat yang memperjelas poin-poin yang anda buat.

Memberi Daya Penguat Ceramah
9. Aplikasi problem : ajukan problem atau pertanyaan pada peserta didik untuk diselesaikan dengan didasarkan pada informasi yang diberikan waktu ceramah.
10. Review peserta didik : suruhlah peserta saling mereview isi ceramah satu dengan yang lain, atau berilah mereka review test dengan menskor sendiri.

Bekerja dengan kelompok kecil merupakan bagian signifikan dari belajar aktif. Sungguh penting untuk membentuk kelompok-kelompok secara cepat dan efisien, pada saat yang sama, mengubah-ubah komposisi dan kadangkala uuran kelompok-kelompok seluruh kelas. Pilihan-pilihan berikut adalah alternatif menarik bagi peserta didik memilih kelompok-kelompok mereka sendiri atau membagi pada jumlah yang telah anda tentukan.

10
Strategi untuk Membentuk Kelompok- Kelompok Belajar

1. Mengelompokkan kartu : Tentukan berapa banyak peserta didik yang ada di kelas dan berapa banyak kelompok-kelompok yang berbeda yang anda inginkan pada seluruh sesi. Sebagai contoh, pada sebuah kelas berjumlah 20 peserta, satu aktifitas mungkin untuk empat kelompok yang beranggotakan 5 peserta; yang lain untuk lia kelompok beranggotakan 4 peserta; yang lain lagi untuk enam kelompok berabggotakan 3 peserta dengan dua pangamat. Tandailah kelompok-kelompok ini dengan menggunakan titik (berwarna merah, biru, hijau, dan kuning untuk 4 kelompok), stiker dekoratif (lima stiker yang berbeda pada tema umum untuk lima kelompok – sebagai contoh, singa, kera, harimau, jerapah, gajah), dan sebuah nomor (dari nomor 1-6 untuk enam kelompok). Secara random tempatkan nomor, titik berwarna dan stiker pada sebuah kartu untuk setiap siswa dan masukkan kartu pada materi peserta. Ketika anda siap untuk membentuk kelompok-kelompok anda, identifikasikan kode yang anda gunakan dan arahkan peserta didik untuk menggabungkan kelompok mereka pada suatu tempat yang telah ditentukan. Para peserta akan dapat bergerak dengan mudah pada kelompok-kelompok mereka, menghemat waktu dan memperkecil kebingunan. Untuk menjadikan proses lebih efisien, anda dapat menempatkan tanda yang menunjukkan daerah pertemuan kelompok.
2. Teka-teki (Puzzles) : Dapatkan teka-teki menyusun potongan-potongan gambar peserta didik atau buatkan sendiri dengan memotong-motong gambar dari majalah; tempelkan gambar-gambar itu pada sebuah papan kartu; potong-potonglah mereka pada bentuk, ukuran dan jumlah yang diinginkan. Pilihlah nomor teka-teki sesuai dengan nomor kelompok yang anda inginkan.Pisahkan teka-teki, campurlah potongan-potongan itu, dan berilah setiap peserta sebuah teka-teki. Ketika anda siap untuk membentuk kelompok-kelompok anda, perintahkan peserta untuk menempatkan ini dengan potongan-potongan lain yang diperlukan untuk melengkapi teka-teki.
3. Menemukan teman-teman atau keluarga fiksi yang terkenal : Buatlah daftar anggota keluarga atau teman-teman secara fiksi yang terkenal dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari tiga atau empat (seperti Peter Pan, Tingker Bell, Capten Hook, Wendy; Alice, Cheshire Cat, Queen of Heart, Mad Hatter; Superman, Loin Lane, Jimmy Olsen, Clark Kent). Pilihlah nomor yang sama dari ciri dasar fiksi sebagaimana yang ada pada peserta didik. Tuliskan nama-nama fiksi pada kartu-kartu indeks, satu pada setiap kartu, buatlah sebuah kelompok keluarga dari kartu. Kocoklah kartu-kartu itu dan berikan setiap peserta sebuah kartu dengan nama fiksi. Ketika anda siap untuk membentuk kelompok, suruhlah peserta untuk mendapatkan anggota-anggota lain dari keluarga mereka. Kelompok terkenal lengkap, mereka dapat memperoleh tempat berkumpul.
4. Tanda pengenal nama : Gunakan tanda pengenal nama dari bentuk dan atau warna yang berbeda-beda untuk menandai kelompok yang berbeda-beda.
5. Hari kelahiran : Suruhlah peserta didik untuk antri menurut kelahirannya, kemudian bagilah pada jumlah kelompok yang anda perlukan untuk aktifitas tertentu. Dalam kelas-kelas besar, bentuklah kelompok-kelompok menurut bulan kelahiran. Sebagai contoh, 60 peserta dapat dibagi menjadi 3 kelompok yang berukuran sama dengan menyusun kelompok dari para peserta yang dilahirkan pada (1) Januari, Februari, Maret, dan April; (2) Mei, Juni, Juli, dan Agustus; dan (3) September, Oktober, dan Nopember.
6. Kartu permainan : Gunakan sebuah meja kartu permainan untuk membentuk kelompok. Sebagai contoh, gunakan yoker, queen, king, dan kartu As untuk membentuk empat kelompok dengan empat anggota, dan tambahkan nomor kartu sesuai dengan nomor peserta didik. Acaklah kartu-kartu itu dan berikan setiap peserta satu kartu. Kemudian peserta langsung menunjuk yang lain dari jenis mereka untuk membentuk sebuah kelompok.
7. Menulis nomor : Tentukan nomor dan ukuran dari kelompok-kelompok yang akan anda bentuk, letakkan nomor pada kertas slip individual, dan letakkan mereka pada sebuah kotak. Para peserta menulis sebuah nomor dari kotak itu untuk menunjuk kelompok yang mereka miliki. Sebagai contoh, jika anda menginginkan 4 kelompok dengan empat anggota, anda harus memiliki 16 kertas slip dengan 4 anggota setiap nomor 1-4.
8. Selera permen : Berilah peserta didik sebungkus permen gula keras dari berbagai selera/rasa untuk menunjuk kelompok. Sebagai contoh, 4 kelompok anda dapat berupa limun, gula mentega, cherry, dan mint.
9. Pilihlah hal-hal yang serupa : Pilihlah permainan anak-anak pada sebuah tema umum dan gunakan mereka untuk membentuk kelompok. Sebagai contoh, anda dapat memilih transportasi dan menggunakan mobil, kapal terbang, kapal laut, dan kereta api. Setiap peserta hendaknya menggambar sebuah mainan dari kotak dan menempatkan yang lain dengan permainan yang sama untuk membentuk sebuah kelompok
10. Materi peserta didik : Anda dapat menandai materi belajar dengan menggunakan kertas klip berwarna, materi berwarna atau stiker pada penyangga untuk menentukan kelompok
Satu cara untuk memfasilitasi belajar aktif dalam kelompok kecil adalah menugasi tugas-tugas pada anggota-anggota kelompok seperti pemimpin, fasilitator, mengatur waktu, perekam, pembicara, pengamat proses atau manajer materi. Seringkali, anda dapat secara mudah meminta sukarelawan menempati beberapa tanggung jawab ini. Tetapi kadangkala menyenangkan dan efisien menggunakan strategi pilihan kreatif.
1. Penugasan berdasarkan alphabet : Identifikasikan tugas-tugas yang diperlukan dan tugaskan mereka dalam urutan alphabet dengan nama pertama. Dalam kelompok jangka waktu lama, putarlah tugas-tugas dengan menggnakan aturan ini.
2. Penugasan menurut kelahiran : Tentukan tugas dalam urutan akronologi kelahiran siswa (dalam tahun kalender). Dalam kelompok jangka waktu lama putarlah tugas-tugas dengan menggunakan aturan ini.
3. Nomor lotre : Suruhlah anggota kelompok untuk membaginya. Letakkan nomor-nomor yang dimiliki oleh anggota kelompok pada topi dan tentukan orang
untuk setiap tugas.
4. Warna lotre : Pilihlah warna untuk setiap tugas. Orang yang memakai warna tertentu menerima tugas itu.
5. Perlengkapan pakaian : Tugaskan tanggung jawab dengan memilih perlengkapan pakaian, seperti pemakai kaca mata, perhiasan perak, sweeter atau sepatu coklat.
6. Voting : Suruhlah anggota kelompok untuk memilih tugas. Salah satu metode populer untuk menandai anggota menunjuk orang yang mereka pilih. Orang dengan jari paling banyak menunjuk padanya memperoleh tugas itu.
7. Penugasan random : Suruhlah setiap anggota untuk mengkalkulasi dan mengemukakan empat digit terakhir dari nomor telephone rumah (seperti 9999 = 36). Kemudian umumkan sebuah nomor dari 1-36. Peserta dalam kelompok yang nomornya paling dekat pada nomor tersebut ia diberi tugas itu.
8. Pecinta binatang piaraan : Berikan tugas yang telah ditentukan untuk peserta didik dengan jumlah binatang piaraan terbanyak.
9. Ukuran keluarga : Berikan tugas yang telah ditentukan untuk peserta dengan saudara kandung paling banyak atau paling sedikit
10. Door Prize : Paling awal ke kelas, letakkan sebuah stiker sedemikian rupa sehingga mengidentifikasikan satu anggota per kelompok. Metode-metode mencakup sebuah stiker pada sebuah kartu nama, atau pada sebuah tempat duduk atau meja, Pada sebuah materi pelajaran dan sejenisnya. Peserta didik yang menerima stker memperoleh hadiah dari suatu tugas kelompok tertentu. Untuk menghadiahkan lebih dari satu tugas, gunakan stiker dengan warna yang berbeda-beda.
Diskusi kelas berperan sangat penting dalam belajar aktif. Dengan mendengarkan keluasan ragam pandangan menantang peran peserta. Peran anda selama diskusi kelompok adalah memfasilitasi jalannya komentar dari peserta. Sekalipun ini tidak perlu untuk menyela setelah setiap siswa berbicara, secara periodik membantu kelompok agat kontribusi mereka dapat bermanfaat. Inilah sepuluh poin menu fasilitas yang digunakan ketika anda memimpin kelompok diskusi.

1. Membuat parafrase yang dikatakan peserta didik sehingga menjadi sesuatu yang mudah difahami oleh peserta lain dan dapat diperoleh kesimpulan dari apa yang telah dikatakan pada waktu yang lebih lama :
Sehingga, apa yang anda katakan adalah bahwa anda telah sangat berhati-hati mengenai kata-kata yang anda gunakan karena peserta tertentu mungkin tersinggung olehnya.
2. Cek pemahaman anda pada kata-kata peserta atau suruhlah ia untuk mengklarifikasikan apa yang ia katakan :
Apakah anda mengatakan bahwa kebenaran politis ini telah terlalu jauh? Saya tidak yakin bahwa saya betul-betul memahami apa yang anda maksud. Dapatkah anda mengulangi lagi?.
3. Melengkapi satu komentar yang menarik atau mendalam:
Itu poin yang bagus. Saya senang bahwa anda membawakan itu pada perhatian kita.
4. Elaborasikan kontribusi peserta didik pada diskusi dengan contoh-contoh, atau sarankan sebuah cara baru untuk melihat problem :
Komentar anda menyediakan poin menarik dari perspektif minoritas. Kita juga dapat mempertimbangkan bagaimana mayoritas memandang situasi yang sama.
5. Membangkitkan diskusi dengan mempercepat langkah, dengan menggunakan humor, atau jika perlu mendesak kelompok untuk memberi kontribusi lebih.
Oh saya, kita memiliki peserta didik yang diam dikelas ini! Inilah tantangan untukmu. Untuk dua menit mendatang, mari kita lihat berapa ba-nyak kata yang dapat anda pikirkan yang tdak lagi dapat diterima secara politis.
6. Tidak setuju pada komentar peserta untuk mendorong diskusi lanjut.
Saya dapat melihat dari mana anda mulai, namun saya tidak percaya apa yang anda deskripsikan selalu sesuai dengan masalah. Adakah peserta lain memiliki pengalaman yang berbeda dari pengalaman jim?
7. Tengahilah berbagai perbedaan pendapat antara peserta didik, dan kurangi ketegangan yang ada.
Saya kira bahwa Susan dan Mary tidak betul-betul bertentangan satu dengan yang lain namun hanya perbedaan sisi pandang dari keduanya terhadap isu ini.
8. Gabungkan ide-ide, tunjukkan hubungan mereka satu dengan yang lain.
Sebagaimana anda dapat melihat komentar dari Dan dan Jean, kata-kata yang kita gunakan bisa menyinggung siswa. Keduanya telah memberi kita sebuah contoh bagaimana mereka merasa eksklusif dengan kata-kata yang didasarkan pada jender.
9. Ubahlah proses kelompok dengan alernatif metode untuk memperoleh partisipasi atau memindahkan kelopok pada tigkat evaluasi ide yang telah ditempatkan di depan kelompok.
Mari kita bagi kelompk-kelompok kecil maka lihatlah jika anda dapat menenentukan dengan beberapa kriteria untuk menetapkan penggunaan kata yang sensitif pada jender.
10. Simpulkan (dan rekamlah, jika dipelukan) pandangan-pandangan utama dari kelopok.
Saya telah mencatat tiga ide utama yang brasal dari diskusi kelompok dimana kata-kata itu menyakitkan : (1) Mereka menyisihkan beberapa peserta. (2) Mereka menghina beberapa peserta. (3) Mereka hanya ditentukan oleh kultur mayoritas.

Aktifitas pengalaman betul-betul membantu membuat belajar aktif. Aktifitas semacam itu secara khusus melibakan bermain peran, games, simulasi, visualisasi, dan tugas problem solving. Seringkali jauh lebih baik bagi peserta didik mengalami sesuatu dari pada sekedar menengarkan da membicarakanya. Ketika memfasilitasi aktifitas pengalaman, inilah sepuluh langkah untuk dipertibangkan.
1. Terangkan tujuan anda. Peserta ingin mengetahui apa yang akan terjadi dan mengapa.
2. Kemukakan keuntungan. Jelaskan mengapa anda melakukan aktifitas dan beritahukan bagaimana aktifitas itu berkaitan dengan aktifitas-aktifitas lain sebelumnya.
3. Berbiacaralah pelan-pelan ketika memberi pengarahan. Anda juga mungkin memberikan dukungan visual. Pastikan pengantar dapat dipahami.

4. Demonstrasikan aktifitas jika petunjuk itu sulit. Biarkan peserta menyaksikan aktifitas sebelum mereka melakukannya.
5. Bagilah peserta didik menjadi beberapa kelompok kecil sebelum memberikan pengarahan lebih jauh.. Jika tidak, peserta mungkin lupa pada pengarahan ketika kelompok-kelompok baru dibentuk.
6. Informasikan kepad peserta berapa lama waktu yang mereka miliki. Kemukakan waktu yang tersedia untuk semua aktfitas, dan kemudian beritahukan scara priodik berapa lama waktu yang tersisa.
7. Jagalah akifitas tetap berjalan. Jangalah mempelambat sesuatu dengan tanpa kontribusi peserta pada flip chart atau papan tulis, dan jangan biarkan diskusi berjalan terlalu panjang.
8. Tantanglah peserta didik. Terdapat energi lebih ketika afitas menciptakan satu tingkat ketegangan sedang. Jika tugas terlalu mudah, peserta akan menjadi malas.
9. Jangan diskusikan aktifitas. Ketika sebuah aktifitas telah tersimpulkan, ajaklah peserta untuk melanjukan merasakan bahwa aktifitas yang dihasilkan dan secara bersama-sama melihat dan mempelajari isinya.
10. Susunlah dengan hati-hati proses pengalaman pertama. Bimbinglah diskusi dan berikan hanya beberapa pertanyaan. Jika peserta didik berada pada kelompok-kelompok kecil, suruhlah mereka untuk mengambil gilirans singkat untuk melibatkan respon mereka.

Bermain peran terutama berguna dalam metode belajar pengalaman. Ini dapat digunakan untuk membangkitkan diskusi, menghidupkan kembali peristiwa, mempraktekkan keterampilan atau untuk mengalami bagaimana fenomena rasa tertentu. Agar berhail ketika menerapkan bemain peran, membantu untuk mengetahui cara yang berbeda-beda untuk menyusun-nya dan memformatnya.

Penaskahan
1. Bentuk bebas : Para reserta dapat diberikan skenario umum dan diminta untuk mengisi secara detail mereka sendiri.
2. Ditentukan : Para peserta dapat diberikan instruksi yang telah dipersiapkan dengan baik yang mengungungkapkan fakta mengenai peran-peran yang mereka perankan dan bagaimana mereka harus bertindak.
3. Semi ditentukan : Para pserta dapat diberikan informasi latar belakang secara luas mengenai situasi dan ciri utama digambarkan, namun tidak dikatakan bagaimana cara mengatasi situasi.
4. Memainkan ulang kehidupan : Para peserta dapat menggambarkan diri mereka sendiri dalam situasi aktual yang mereka hadapi.
5. Bacaan dramatis : Para peserta dapat diberikan tulisan yang telah dipersiapkan sebelumnya untuk dilakukan.
Pemformatan
6. Simultan : Seluruh peserta didik dapat dibentuk dalam berpasangan untuk sebuah drama dua orang, bertiga untuk drma tiga orang, dan seterusnya, dan secara simultan dapat mengambil permainan peran mereka.
7. Panggung di depan : Seorang peserta didik atau lebih dapat memainkan peran di depan kelompok dan peserta lain dari kelompok itu berperan sebagai pengamat yang memberi feed back.
8. Bergiliran : Aktor di depan kelompok dapat digilirkan, bisanya dengan interupsi permainan peran selanjutnya dan menggantikan satu aktor atau lebih.
9. Aktor-aktor yang berbeda : Lebih dari satu aktor dapat direkrut untuk memerankan situasi yang sama. Ini memungkinkan kelompok untuk mengobservasi lebih dari satu style.
10. Diulangi : Permainan peran dapat dipraktekkan kedua kaliya.

Metode apapun yang anda gunakan,belajar aktif memerlukan waktu. Oleh karena itu, penting bahwa tidak ada waktu yang terbuang. Bagaimanapun banyak guru kehilangan kendali waktu dengan membiarkan waktu terbuang. Inilah hal-hal yang dapat anda lakukan untuk menghemat waktu.

1. Mulailah tepat waktu. Ini berfungsi mengirimkan pesan pada pendatang yang terlambat bahwa anda serius. Jika seluruh siswa belum di kelas, anda dapat mulai pelajaran dengan suatu diskusi atau mengisi aktifitas yang perhatian secara penuh tidak diperlukan.
2. Berilah instruksi secara jelas. Jangan mulai suatu aktifitas manakala peserta bingung tentang apa yang harus dilakukan. Jika pengarahan sulit, tuliskan.
3. Persiapkan informasi visual pada waktunya. Jangan menulis poin kuliah pada flip chart atau papan tulis ketika peserta mengamat-amati. Persiapkan poin sebelum ditulis. Juga, tentukan jika input peserta betul-betul memerlukan. Jika begitu, jangan merekam semua kata yang berasal dari diskusi kelas. Gunakan headlines untuk menangkap apa yang peserta katakan.
4. Bagikan materi pelajaran dengan cepat. Letakkan materi pelajaran dalam paket yang telah dipersiapkan; bagikan paket ke tempat pentas dari ruang kelas sehingga beberapa siswa dapat membantu pendistribusiannya.
5. Perlancarlah laporan kelompok kecil. Suruhlah kelompok kecil untuk menulis ide-ide mereka pada sehelai kertas dan meletakkan catatan mereka pada tembok ruang kelas. Sehingga semua kerja kelompok dapat dilihat dan didiskusikan pada saat yang sama. Atau dari satu kelompok ke kelompok, setiap satu laporan hanya satu item pada suatu waktu sehingga setiap peserta dapat mendengarkan dengan mudah. Kelompok kecil tidak perlu mengulang apa yang telah dikatakan.
6. Jangan biarkan diskusi berjalan sangat lamban.Ungkapkan perlunya bergerak terus, tetapi, selama diskusi selingan, panggillah para peserta diam. Atau mulailah diskusi dngan waktu yang terbatas dan dengan menyarankan seberapa banyak kontribusi waktu yang ada.
7. Dapatkan sukarelawan dengan cepat. Jangan menanti berlarut-larut untuk sukarelawan muncul. Rekrutlah relawan sebelum pelajaran mulai atau mulai kembali setelah istirahat; panggillah peserta secara konsisten mana-kala tidak ada relawan dengan cepat.
8. Bersiaga terhadap kelompok-kelompok yang capek atau lesu. Sediakan daftar gagasan, pertanyaan atau bahkan jawaban dan suruhlah peserta untuk memilihnya yang mereka setujui; perseringlah daftar anda dengan mendorong pikiran dan isu dari peserta.
9. Percepatlah langkah aktifitas dari waktu ke waktu. Seringkali dengan meletakkan peserta dalam waktu terbatas mendorong mereka dan menjadikan mereka lebih produktif.
10. Dapatkan perhatian kelas yang cepat. Gunakan berbagai pengikat atau perhatian untuk memperoleh bagian-bagian untuk mengemukakan pelajaran yang telah anda siapkan untuk mengumpulkan mereka setelah aktifitas kelompok kecil.

Dengan menggunakan teknik-teknik belajar aktif cenderung mengurangi problem manajemen kelas yang seringkali mengganggu pengajar yang betul-betul merasa berat pada ceramah dan diskusi kelompok besar. Jika, kesulitan-kesulitan seperti monopoli, gangguan dan menarik tingkah laku masih terjadi, Inilah beberapa
Intervensi yang dapat anda gunakan. Beberapa hal baikuntuk peserta secara individual; yang lainnya untuk kelas secara keseluruhan.

1. Berilah tanda secara non verbal. Kontaklah para siswa dengan mata atau mendekat pada mereka ketika mereka bercakap-cakap sendiri, mulai terkantuk atau bersembunyi dari partisipasi. Tekan jari anda bersama-sama untuk memberi tanda tanpa kata-kata pada peserta untuk menyelesaikan apa yang mereka katakan. Buatlah tanda “T” dengan jari-jari anda untuk menghentikan perbuatan yang tidak diinginkan.
2. Dengarkan dengan penuh perhatian. Ketika peserta monopoli diskusi, hentikan pada suatu singgungan atau berargumen dengan anda, hentikan dengan rangkuman dari pendapat-pendapat mereka dan kemudian suruhlah yang lain untuk berbicara. Atau anda dapat mengakui nilai dari pandangan mereka dan menyuruh mereka mendiskusikan pandangan mereka dengan anda waktu istirahat.
3. Urutkan pada deret. Ketika peserta didik yang sama selalu berbicara di kelas, sedangkan yang lain diam, ajukan sebuah pertanyaan atau problem dan tanyakan berapa jumlah peserta yang meresponnya. Anda hendaknya melihat tangan peserta yang baru mengacung. Tunjuklah salah satu diantara mereka. Teknik yang sama dapat berfungsi ketika berusaha untuk mendapatkan relawan untuk permainan peran.
4. Kemukakan aturan-aturan partisipasi. Dari waktu ke waktu, katakan pada peserta bahwa anda akan menggunakan aturan-aturan sebagai berikut:
ü Dilarang ketawa selama permainan peran.
ü Hanya peserta yang belum berbicara boleh berpartisipasi.
ü Bangunlah setiap ide yang muncul.
ü Bicaralah untuk anda sendiri, bukan untuk yang lain.
5. Gunakan humor secara wajar. Salah satu cara untuk memalingkan tingkah laku yang sulit adalah dengan menggunakan humor pada peserta. Berhati-hatilah jangan sampai menyinggung atau merendahkan. Protes pelecehan secara ksatria (seperti “cukup, cukup pada suatu hari”!). Dengan humor tempatkan diri anda sebagai peserta (“seperti saya menduga saya layak untuk ini”).
6. Rangkaikan pada level personal. Apakah problem peserta adalah permusuhan atau tidak mau terlibat, buatlah poin yang dapat mereka ketahui waktu istirahat. Tidaklah diinginkan para peserta didik akan melanjutkan memberi anda waktu yang sulit atau tetap menjaga jarak jika anda telah menaruh perhatian mereka.
7. Ubahlah metode partisipasi. Kadang-kadang anda dapat mengendalikan kerusakan yang dilakukan oleh peserta nakal dengan memasukkan format baru seperti menggunakan pasangan atau kelompok kecil dari pada aktivitas kelas secara keseluruhan.
8. Nafikkan tingkah laku negatif scara halus. Perhatikan sedikit atau abaikan tingkah laku-tingkah laku yang tadak bernuansa. Lanjutkan pelajaran dan perhatikan juga jika mereka pergi.
9. Diskusikan tingkah laku yang sangat negatif secara pribadi. Anda harus menghentikan tingkah laku-tingkah laku yang anda temukan merusak belajar. Mintalah dengan tegas, secara pribadi, perubahan dalam tingkah laku dari para peserta didik yang merusak. Jika kelas keseluruhan terlibat, hentikan pelajaran dan jelaskan dengan jelas apa yang anda perlukan dari pserta untuk melakukan pelajaran secara efektif.
10. Jangan ambil kesulitan-kesulian personal yang anda hadapi. Ingatlah bahwa banyak problem tigkah laku yang tidak perlu anda terlibat. Itu terkait dengan kekhawatiran atau kebutuhan personal atau salah marah pada orang lain. Perhatikan jika anda dapat memilih isyarat kalau ini yang menjadi kasus dan suruhlah jika peserta dapat menempatkan kondisi yang mempengauhi keterlibatannya yang positif di kelas.